Yadnya Tanpa Banten

        Jika suatu saat oleh sebab krisis, kondisi alam tidak lagi dapat memberikan daya dukung terhadap pemenuhan kebutuhan akan sarana upakara bebanten, dapatkah meyadnya tanpa disertai haturan banten?

        Pertanyaan diatas tergolong kritis dan amat wajar disampaikan mengingat keadaan sekarang lumayan krisis, terutama dalam hal ketersediaan sumber daya alam yang belakangan ini memang mulai dirasakan mengalami kesulitan untuk memenuhinya. Sampai-sampai hampir segala kebutuhan material bahan upakara yadnya didatangkan dari berbagai daerah luar bali. Ini merupakan pertanda tidak baik, terutama jika yadnya hanya diartikan sebagai bentuk pelaksanaan upacara dengan upakara bebantennya, seperti yang selama ini berlangsung di Bali. Jika suatu saat ketersediaan sumber daya alam sampai berada di titik kritis, bahkan terancam habis, maka apa hendak dikata, yadnyapun harus disesuaikan bentuknya sesuai dengan keadaan.

        Sebab mengacu pada arti yadnya, sesungguhnya sebstansi maknanya adalah sebagai sebuah ‘pengorbanan’, yang dalam arti sempit diwujudkan ke dalam bentuk persembahan, khususnya dalam bentuk upakara bebanten. Padahal, makna yadnya sesungguhnya amat luas, yaitu dapat juga diartikan sebagai bentuk kehormatan, penghargaan, pengabdian atau pelayanan.

        Dalam konteks zaman kini yang acapkali dipersamakan dengan zaman Kali (Kaliyuga), di dalam teks Slokantara-81 (65) dengan jelas sudah diisyaratkan, bahwa : “Di waktu zaman Kerta (Kretayuga) tapabratalah yang diutamakan, di dalam zaman Treta (Tretayuga) pengetahuan yang diutamakan, di zaman Dwapara (Dwaparayuga) upacara korbanlah (yadnya) yang diutamakan dan di zaman Kali (Kaliyuga) hanya dana (uang dan benda) yang diutamakan”.

        Artinya, disaat kondisi ketersediaan sumber daya alam sudah berada pada tingkat krisis atau kritis bahkan nyaris habis, maka melalui dana (harta benda) yang dimiliki dapat juga melakukan yadnya. Tidak selalu dalam bentuk upakara bebanten, tetapi lebih kepada usaha mewujudkan bhakti melalui bentuk-bentuk pengabdian atau pelayanan (seva). Dan juga tidak semata-mata hanya bersifat vertikal (kehadapan-Nya), tetapi terutama lagi yang berkaitan dengan kepentingan horizontal, yang bermanfaat bagi usaha “memanusiakan manusia”.

        Sebab kata orang bijaksana, bhakti kita kepada Tuhan dapat diwujudkan dalam bentuk pelayanan kepada sesama manusia, dengan segala aktivitasnya, seperti membantu keluarga miskis, mendonasi peningkatan kualitas pendidikan, menolong orang sakit, memberdayakan sumber daya manusia Hindu, dan sejenisnya.termasuk juga mengupayakan pemulihan kembali sumber daya alam yang semakin krisis, antara lain dengan penanaman pepohonan yang sangat dibutuhkan dalam pembuatan upakara bebanten, menjaga tetap lestarinya sumber-sumber mata air, mempertahankan kawasan hutan, perkebunan, persawahan dari jamahan para pendatang luar, dan sebagainya.

        Singkat kata, sadar bahwa keadaan alam akan semakin krisis, maka wujud-wujud yadnya masa kini, tidak harus selalu dalam bentuk banten semata. Sebab, makna yadnya itu sendiri dapat diperluas ragam dan bentuknya ke dalam kegiatan lain yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya alam dan manusia itu sendiri.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana