Yadnya Masa Kini

        Selama ini ada anggapan bahwa “meyadnya” itu sama dengan melaksanakan kegiatan upacara dengan upakara bebantenannya. Apakah memang seperti itu ? Bagaimana untuk kepentingan masa kini, apakah yadnya bisa diwujudkan ke dalam bentuk lain yang tidak bersifat ritual saja?

        Secara harfiah “Yadnya” berarti kurban suci yang dilakukan secara tulus ikhlas dan tanpa pamrih. Bentuknya seperti dipertanyakan di atas memang cenderung dan dominan di seputar ritual dengan cara melakukan kegiatan upacara lengkap dengan upakara bebantennya. Itu tidak salah meski tidak sepenuhnya tepat. Sebab sebagaimana arti katanya, apalagi kalau dikaitkan konteks kehidupan umat sekarang ini, sudah saatnya bentuk dan jenis yadnya dapat diperluas makna dan faktanya. Tidak lagi hanya bergerak di sekitar “ngaturang bebanten” tetapi dapat juga diwujudkan ke dalam aneka ragam kegiatan yang mencerminkan sifat-sifat pengorbanan, persembahan, pengabdian, dan pelayanan, terutama kepada umat sedharma yang memang dalam keadaan patut dibantu,baik dalam peningkatan sumber daya manusianya, persoalan kesejahteraan hidupnya, termasuk dalam hal pendidikan dan penanganan kesehatannya.

        Contoh kongkret Yadnya masa kini dapat diungkap, dalam hal “pengorbanan” misalnya dapat dilakukan dengan menyediakan waktu untuk lebih memperhatikan masalah pembinaan dan peningkatan sradha bhakti anggota keluarga. Mulai dari arahan untuk selalu melaksanakan kewajiban mesaiban, matrisandhya, rajin ke Pura sampai medana punia. Pengorbanan juga dapat ditunjukkan dengan membantu umat sedharma yang nyata-nyata memerlukan bantuan material-finansial, baik untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kelanjutan pendidikan dan juga urusan kesehatannya.

        Lalu dalam bentuk “persembahan” antara lain dapat direalisasi dengan “ngaturang uparengga” berupa alat kelengkapan persembahyangan, seperti tedung, canting tirtha, dupa, wastra bahkan bisa juga berbentuk Palinggih. Kemudian yang merupakan bentuk “pengabdian” dapat diwujudkan dalam melakukan kegiatan mengabdi dalam pembinaan dan peningkatan pengetahuan atau jnana serta tattwa umat yang dirasakan teramat kurang, seperti membentuk seke santi, mendirikan pasraman atau memberikan dharma wacana. Dan satu lagi bentuk yadnya yang dapat dilakukan sesuai tuntunan kehidupan masa kini adalah bagaimana setiap umat terutama yang berkemampuan lebih untuk dapat memberikan “pelayanan” dalam bidang apapun demi kepentingan umat, seperti memberikan pelayanan kepada para penghuni panti werda, panti asuhan, penderita penyakit akut, kelainan mental termasuk pada umat yang mengalami gangguan mental, sakit jiwa, atau yang sedang mengalami masalah sosial.

        Apa yang terurai diatas adalah bentuk dan jenis-jenis Yadnya yang di masa sekarang ini jauh lebih nyata, bermakna sekaligus mengena karena benar-benar dibutuhkan umat ketimbang terbatas hanya bergerak di seputar ritual. Kegiatan ritual memang wajib tetap dijalankan, tetapi pengembangannya agar lebih berarti, lagi harus dimulai dengan mengejawantahkan makna yadnya ke dalam konteks sosial-horizontal (sekala), tidak semata-mata individual-vertikal (niskala). Bagaimanapun juga bentuk bhakti tertinggi sesungguhnya adalah melayani Tuhan dengan cara melayani sesama manusia dan makhluk hidup lainnya.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana