Sembahyang Tanpa “Haturan”

        Dalam suatu perjalanan, ketika menjumpai Pura, timbul keinginan untuk tangkil, tetapi masalahnya tidak membawa “haturan”, etiskah atau bolehkah sembahyang ke Pura tanpa mempersembahkan “haturan”, mohon dielaskan!

        Sembahyang atau sering juga disebut “ngaturang bhakti” memang menjadi kewajiban bagi setiap umat Hindu. Bentuknya, mulai dari yang paling sederhana berupa mengucapkan doa-mantra ketika hendak melakukan suatu kegiatan, lalu melaksanakan Tri Sandhya, menghubungkan diri dengan Hyang Widhi tiga kali sehari (pagi, siang, sore/malam). Dan bila belum terbiasa, bisa hanya satu kali atau dua kali atau cukup dengan melantunkan bait pertama Tri Sandhya yang disebut sebagai “ibu dari segala mantra” yaitu gayatri mantra.

        Boleh juga dengan “nyakupang kara kalih” yaitu hanya ngaturang Panca Sembah saja. Bentuk-bentuk persembahyangan di atas sama sekali tidak mengharuskan menggunakan “haturan” kecuali sarana kelengkapannya seperti bunga, dupa, kalau ada kewangen atau canang lebih baik lagi. Tetapi ingat, tanpa sarana itupun dapat melakukan persembahyangan, termasuk ke Pura. Karena menurut konsep tattwa, ketika tidak ada atau tidak membawa apa-apa, Padmahredaya yang tidak lain dari “bunga hati” berupa niat, hati yang bersih suci dan tulus ikhlas akan menjadi media yang jauh lebih utama dibanding sekadar sarana. Jadi, meski tanpa membawa “haturan”, apabila persembahyangan dilakukan dengan penuh rasa bhakti akan diterima juga oleh Hyang Widhi.

        Memang, sudah menjadi kewjiban bahwa selain melakukan persembahyangan, sepatutnya umat Hindu menghaturkan juga suatu persembahan yang lumrah disebut dengan “haturan”  dalam bentuk upakara bebanten, seperti canang, sodan, pejati, dll. Ini adalah amanat bunyi kitab Bhagawadgita , III. 12, bahwa: “dipelihara oleh yadnya, para dewa akan memberikan kenangan yang diinginkan. Ia yang menikmati pemberian-pemberian ini dengan tanpa memberikan balasan (meyadnya) kepada-Nya adalah pencuri”.

        Namun, meski demikian bukan berarti persembahan “haturan” itu merupakan keharusan. Untuk hal-hal yang berhubungan dengan situasi tertentu seperti dalam perjalanan, dimana tanpa perencanaan tiba-tiba berkeinginan untuk tangkil ke Pura, dengn hanya membawa diri sajapun persembahyangan dapat dilakukan. Bahkan dengan tidak mengenakan bhusana adatpun, tangkil ke Pura dibolehkan sepanjang telah mengenakan pakaian yang bersih, sopan, dan rapi.

        Dengan modal niat, kebersihan pikiran, kesucian hati dan perasaan yang tulus ikhlas sudah lebih dari utama untuk tangkil ke Pura dan lanjut melakukan sembah-bhakti. Jika masih memungkinkan tetap diusahakan untuk minimal mendapatkan sarana persembahyangan seperti bunga yang mungkin dapat dipetik di sekitar areal Pura. Tidak jarang juga di Pura tertentu disediakan, setidaknya selendang untuk masenteng/ubed-ubed. Selanjutnya, sangat baik sekali, jika akan melakukan suatu perjalanan, dimana terdapat pura yang akan dilewati, atau paling tidak ada palinggih pangayatannya di pinggir jalan, sejak dari keberangkatan sudah dipersiapkan segala sesuatunya baik sarana persembahyangan maupun “haturan”, yang nantinya setelah dipersembahkan akan menjadi prasadam untuk dilungsur alias dinikmati juga.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana