Potong Gigi Massal

        Saya berencana mengikutsertakan anak-anak saya sebagai peserta potong gigi massal, tetapi ditentang keluarga, dengan alasan menyalahi adat. Apa benar potong gigi massal itu menyalahi adat, adat yang mana?

        Belakangan ini, umat Hindu mulai berpikir praktis dan ekonomis meski seringkali dianggap mengabaikan aspek sosiologis, yang menginginkan segala kegiatan adat-keagamaan dilangsungkan secara bersama-sama dalam lingkup keluarga. Dalam contoh potong gigi massal atau bahkan ngaben massal, meski tidak menyalahi ketentuan agama, namun tetap dianggap menyalahi kebiasaan adat, khususnya adat masuka-duka yang menghendaki dipatuhinya adat kebersamaan dan kekeluargaan yang melaksanakan suatu kegiatan sosial keagamaan.

        Sebenarnya banyak pertimbangan positif yang menjadi alasan untuk memutuskan menyelenggarakan dan atau mengikuti kegiatan suka-duka yang bersifat massal. Pertama, sudah pasti tidak melanggar ketentuan ajaran agama sebagai landasan subtansi (tattwa). Kedua, dapat melibatkan banyak pihak/orang, yang sebenarnya juga berarti mengandung arti kebersamaan dan kekeluargaan, meski ada yang berbeda soroh/wangsa. Ketiga, terutama untuk menyesuaikan kemampuan diri dengan keadaan perekonomian saat ini yang relatif sulit, menjadikan kegiatan sosial keagamaan yang bersifat massal  itu lebih efisien dan efektif. Dan keempat, memberi gambaran bahwa umat Hindu itu adalah satu kesatuan keluarga besar tanpa harus membeda-bedakan asal keturunan (soroh/wangsa), kedudukan/jabatan, status ekonomi, dsb.

        Atas dasar pertimbangan situasional yang tidak menyalahi ketentuan agama itu, muncullah tradisi baru untuk menyelenggarakan dan atau mengikuti acara dan upacara keagamaan (yadnya) yang besifat massal (ngerit). Dalam pelaksanaan upacara (yadnya) massal ini, semua umat Hindu yang ikut serta, atas dasar kesadaran dan kondisi kemampuan masing-masing dapat mengikutinya, meski dilaksanakan oleh suatu perkumpulan warga dari soroh tertentu. Sebab, dalam konteks ini, yang penting itu bukan siapa yang menyelenggarakan, tetapi bagaimana konsep ajaran agama Hindu itu dapat dilaksanakan dengan baik dan benar dengan prinsip genep-jangkep dan patut-puput.

        Apalagi acara yadnya massal itu melibatkan kalangan pandita (sulinggih) dari semua kalangan umat/soroh (sarwa sadhaka) untuk “muput karya” tersebut, tentu merupakan sebuah pembuktian akan adaya pengakuan bahwa kepentingan dan “rasa agama” umat semuanya sudah diakomodasi dengan bijaksana.

        Memang, yang namanya ikatan kekeluargaan melalui pasemetonan adakalanya sangat membantu, meski sering juga dapat menghambat suatu keinginan untuk melaksanakan suatu kegiatan sosial-keagamaan semacam potong gigi massal. Alasannya, dengan mengikuti yadnya massal itu, apalagi dengan tidak menyertakan keterlibatan kerabat keluarga, dianggapnya tidak ingat lagi menyama braya. Namun harus diingat juga, bahwa dalam soal tanggungjawab pribadi sebagai kepala keluarga (guru rupaka) yang wajib “melunasi hutang” kepada anak, maka keputusan terakhir ada di tangan Bapak-Ibunya, bukan keluarga samping, yang terkadang justru menjadi beban (pengeluaran) dalam penyelenggaraan suatu upacara yadnya. Lagi pula melalui yadnya massal, termasuk potong gigi massal ini selain bersifat ngerit, juga irit (hemat) serta ngurit (menumbuhkan) semangat beragama dengan cara substansial (inti) dan esensial (bermakna).

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana