Penjor Lebay

        Pada saat pelaksanaan Galungan lalu saya lihat begitu banyak umat yang membuat penjor secara berlebihan dengan memodifikasi isian penjor dengan berbagai ornamen yang sebenarnya tidak penting. Bagaimana pendapat pengasuh?

        Subagaimana sering disampaikan bahwa umat hindu masa kini yang hidup di tengah peradaban kontemporer yang serba mementingkan penampilan fisikal-material, maka terhadap aktivitas keagamaan seperti halnya saat melaksanakan hari suci Galungan tak lepas dari ekspresi gaya pembuatan penjor inovasi. Tidak salah memang, hanya saja ketika unsur-unsur standar sesuai tuntunan etis-filosofis yang sebenarnya berbiaya murah lalu dimodifikasi menjadi lebih mewah dan megah tentunya dengan biaya yang lumayan “wah” (sampai hitungan jutaan), pastinya timbul pertanyaan, untuk apa dan siapa ?

        Sejatinya, apapun yang namanya ritual tetap saja masih berada di tataran fisikal yang bersifat material (kebendaan). Dalam suatu profesi keagamaan, sesungguhnya yang jauh lebih dipentingkan adalah pendalaman makna (tattwa), yang kemudian diharapkan terefleksi ke dalam bentuk perilaku beretika (susila) bukan sekedar tampilan bentuk-bentuk material (ritual). Apa yang disebut praktik ritual sepatutnya hanya sebagai alat/media untuk selanjutnya oleh umat dapat dijadikan sebagai anak tangga untuk lebih meningkatkan tahap keidupan rohaninya ke arah pendakian spiritual.

        Ini artinya, meski tidak bisa dikatakan salah apalagi dianggap bermasalah, pembuatan penjor secara berlebihan, baik dari sisi ornamen maupun pembiayaan, sebenarnya hanya merupakan kegiatan buang-buang uang saja. Atau kalau dianggap penting, paling tidak hanya untuk media ekspresi diri untuk sekedar unjuk gengsi atau berharap dapat sanjungan tinggi. Namun lepas dari motif demikian, tetap saja jenis penjor kreasi modifikasi itu tidak lebih sebagai “Penjor Lebay” alian penjor jor-joran. Kalau ada dan memang dibenarkan membuat penjor sederhana, namun lebih bermakna, untuk apa harus membuat penjor lebay lagi.

        Soal selera, kemampuan dana, mengikuti trend memang sah-sah saja. Tetapi kalau dengan cara begitu substansi dan esensi melaksanakan hari suci keagamaan menjadi kehilangan arti dan simbol-simbol maknanya tak nampak dalam laksana, sama saja dengan melakukan sesuatu yang sia-sia. Bukankah agama Hindu dalam hal ini lebih mementingkan ‘pendalaman’ dari pada penampilan. Sebeb, bagi seorang umat Hindu, pengalaman ajaran agama termasuk dalam hal menjalankan kewajiban yadnya seperti Galungan, bukan hanya terletak pada sekedar apa yang dapat dipersembahkan secara ritual-material, tetapi lebih kepada bagaimana umat itu sendiri mampu mempersembahkan sesuatu yang bernilai spiritual.

        Dengan nilai-nilai spiritual itulah umat diharapkan semakin termotivasi untuk menjadikan diri sebagai umat Hindu yang semakin hari semakin meningkat “Me-Mo-Ri” nya, dalam bentuk perbaikan mental, dan pengembangan akhlak bermoral, serta pencapaian kesadaran spiritual, yang manifestasinya akan terlihat dalam bentuk perilaku sosial seperti hidup selalu beretika atau berkesusilaan dan selalu dijiwai semangat saling asah, asih dan asuh. Hanya dengan demikian, tatanan hidup dan kehidupan umat (manusia) akan tetap trerjaga dalam suasana yang rukun, damai, sejahtera dan bahagia jauh dari arogansi individualistik yang anarkis yang biasanya selalu membawa perseteruan dan permusuhan antar sesama umat.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana