Panca Bali Krama

        Tanggal 25 Maret 2009 adalah puncak karya Panca Bali Krama yang diselenggarakan terpusat di Pura Agung Besakih. Apa sesungguhnya makna dari upacara itu dan apa saja jenisnya?

        Upacara Panca Bali Krama, dulu sering disebut Panca Wali Krama, adalah suatu upacara yang tergolong Bhuta yadnya sekaligus berunsurkan Dewa Yadnya, yaitu suatu persembahan untuk menegakkan nilai-nilai kesucian, lalu membangun keharmonisan jagat yang disebut sebagai jagathita bhuta hita, sarwa prani hita. Dengan melaksanakan semua itu, diharapkan dapat memberikan kerahajengan dan kerahayuan kepada manusia yang menempati bumi ini. Semoga ini jagatraya (sarwa prani) dapat memberikan prana atau energi kerahayuan pada manusia dan seisi alam yang lainnya.

        Upacara Panca Bali Krama ini secara periodik dilaksanakan setiap 10 tahun sekali, yang kali ini akan diselenggarakan pada tanggal 25 Maret 2009, bertepatan dengan Tilem Chaitra Saka 1930. Sebenarnya paling tidak ada lima jenis upacara Panca Bali Krama, dilihat dari waktu pelaksanaannya.

        Pertama, Panca Bali Krama yang diadakan pada saat tahun saka berakhir dengan 0 (rah windu) atau menjelang pasalin rah tanggal, misalnya pada tahun saka 1910, 1920 dan yang diadakan sekarang saka 1930.

        Kedua, Panca Bali Krama Panregteg, diadakan dengan tidak terikat dengan roh windu, tetapi oleh karena sudah sangat lama tidak pernah dilaksanakan lagi.

        Ketiga, Panca Bali Krama yang diadakan karena terjadinya bencana alam yang berubtun, seperti banjir, gemoa bumi, gunung meletus, hujan abu, tsunami, hama merajalela, kejahatan tak terkendali, dll. Untuk pelaksanaannya dilakukan di Pura Agung Besakih.

Keempat, Panca Bali Krama yang diadakan di tempat-tempat tertentu diluar Pura Agung Besakih, misalnya di pusat kerajaan. Di masa lalu upacara ini antara lain pernah diadakan di Denpasar dan Mengwi, dengan tujuan untuk menyucikan wilayah tertentu, antara lain oleh sebab tertimpa bencana atau musibah besar.

Kelima, Panca Bali Krama Ring Danu, yang diadakan di danau (biasanya dipilih danau yang terbesar) serangkaian dengan upacara Candi Narmada yang dilaksanakan di samudra (segara). Upacara ini biasanya dan sehharusnya dilaksanakan sebelum pelaksanaan Karya Agung Ekadasa Rudra yang dilaksanakan setiap 100 tahun sekali.

Apapun jenis upacara Panca Bali Krama itu, hakikat tujuannya sama yaitu bagaimana melalui media ritual, keharmonisan dan kelestarian unsur-unsur material dari Panca Maha Buta dengan kandungan nilai-nilai sakralnya bisa terus dijaga. Dari media ritual ini diharapkan, jiwa-jiwa spiritual umat (manusia) bisa tumbuh berkembang menjadi semacam sikap dan perilaku yang berpihak pada pelestarian alam beserta segala isinya. Tidak sebaliknya, seperti yang berlangsung selama ini, umat Hindu selalu menyelenggarakan upacara yadnya untuk menjaga keharmonisan dan kelestarian alam, tetapi di lain sisi, ada juga pihak lain (investor), yang tentunya dibantu umat/krama bali, yang justru diundang untuk “merusak” alam dengan dialih untuk kepentingan kesejahteraan rakyat melalui iming-iming pendapatan yang diperoleh.

Ini yang perlu dicegah, agar tujuan yadnya yang rutin dilaksanakan tidak digagalkan oleh nafsu manusai menguasai bukan menghabisi isi alam. Betapapun utamanya karya yadnya dengan tujuan mulia tetap tidak akan berhasil mencapai tujuan jika tidak disertai dengan perilaku nyata yang mendukung kearah pencapaian tujuan tersebut.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana