Ogoh-Ogoh Dan Nyepi

        Apakah arak-arakan ogoh-ogoh setelah pelaksanaan Tawur Agung Kesanga itu merupakan satu rangkaian dengan hari suci Nyepi?

        Pada dasarnya agama hindu, apalagi yang berkembang di Bali sangat kaya dengan kreativitas budaya. Termasuk munculnya kreasi ogoh-ogoh sejak era tahun 80-an. Tetapi harus diingat, sebagai umat hindu yang baik dan benar, sepatutnya mengetahui dan atau memahami mana bagian dari praktik agama Hindu yang sebenarnya merupakan unsur budaya (cipta-rasa-karsa manusia) dan mana yang sesungguhnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ajaran agama Hindu yang adalah wahyu Tuhan.

        Jika mengacu kepada konsep, yang termasuk rangkaian hari suci Nyepi adalah mulai dari melasti/melis, yang biasanya dilaksanakan beberapa hari menjelang Nyepi lalu pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya mulai dari tingkatan ngaturang segehan satus kutus (di rumah tangga) sampai tawur agung (di tingkat Provinsi) yang dilaksanakan siang hari sehari sebelum Nyepi dan dilanjutkan pada sore menjelang malam hari melakukan upacara Pangrupukan (mabuu-buu) sebagai simbolisasi menetralisir (nyomyang) kekuatan-kekuatan negatif yang digambarkan dalam wujud para bhutakala.

        Oleh para generasi muda Hindu, momen Pangrupukan sebagai simbolisasi penetralisir bhutakala itulah, agar nampak lebih jelas objek yang disasar, dibuatlah kreasi wujud realnya sebagaimana lumrah digambarkan di dalam karya sastra (pustaka Hindu). Dimana para bhutakala itu diidentikkan sebagai kekuatan-kekuatan negatif, yang bersifat jahat, dengan tampilan wajah seram, dan sangat menakutkan dan siap mencari dan memangsa korban, yang kemudian diwujudkan ke dalam bentuk kreasi budaya yang lazim disebut ogoh-ogoh.

        Menjawab pertanyaan di atas, cukup jelas bahwa kreasi dan arak-arakan ogoh-ogoh itu memang tidak ada kaitan langsung dengan rangkaian Nyepi. Arak-arakan ogoh-ogoh hanya sebagai kreasi budaya yang mengadopsi simbol-simbol Hindu untuk lebih kongkrit dalam penggambaran objek yang hendak dinetralisir sat pelaksanaan Pangrupukan. Ini berarti, ada atau tidak ogoh-ogoh rangkaian pokok hari suci Nyepi tetap berlangsung. Yang pasti jika memang diadakan ogoh-ogoh, mulai dari membuatnya, apalagi yang terbiasa “idih-idih dana” jangan sampai memaksa orang lain untuk menyumbang. Begitu juga melakukan arak-arakan, tidak dibenarkan para pengusungnya justru yang terlebih dahulu minum miras, minuman kesukaan para bhutakala seperti tuak ataupun arak hingga mabuk yang dikhawatirkan akan menyulut perseteruan di jalanan saat pengusung ogoh-ogoh dari kelompok lain datang berpapasan.

        Disamping itu, logika ritualnya, jika pada siang atau sore hari para bhutakala itu sudah dinetralisir (somya) dan kembali ke alamnya, mengapa harus dibangunkan kembali untuk diarak melalui media ogoh-ogoh yang biasanya juga dipasupati (dihidupkan). Bukankah keadaan tenang atau terkendali (somya) akan menjadi ramai (ramya) lagi dengan suasana hinggar bingar, hiruk-pikuk arak-arakan ogoh-ogoh, lengkap dengan tetabuhan gong bleganjuran ditimpali teriakan ala suara-suara para raksasa, bhuta-bhuti, dedemit, leak ngakak, dll, yang boleh jadi kondisi magis dan berbau mistis itu malah bisa menjadi unsur pengganggu (pengrebeda) ketenangan umat yang keesokan harinya akan memasuki Nyepi, hari yang sangat disucikan umat Hindu itu.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana