Manumadi

        Apakah kita perlu datang ke seorang balian untuk menanyakan siapa yang ‘manumadi’ pada anak kita? Bukankah kita dilahirkan ke dunia ini menjadi manusia ataupun hewan akibat karma kita terdahulu?

        Agama Hindu tumbuh berkembang, ketika masyarakat Indonesia, khususnya Bali sudah mengenal kepercayaan lokal yang erat kaitannya dengan hal-hal magis. Karena itu keercayaan atau kemagisan masyarakat Bali yang kemudian menjadi pemeluk Hindu sesungguhnya merupakan perpaduan antara kepercayaan lokal (magis) dengan ajaran agama Hindu yang dalam hal ini menjadi jiwa (penyempurna). Itulah sebabnya, apa yang dipraktikkan oleh umat Hindu di Bali tidak semuanya tercantum sebagai bagian langsung dari ajaran Weda.

        Begitu pula sebalikya, apa yang tersurat di dalam kitab suci Hindu Weda, tidak semuanya dilaksanakan oleh umat Hindu. Sehingga dapat dikatakan, ajaran agama Hindu yang secara historis berasal dari India itu, pada setiap tempat atau wilayah yang didatangi selalu mempunyai dan menunjukkan bentuk, corak, karakter dan praktiknya yang berbeda-beda. Hindu di Bali sangat berbeda dengan kepercayaan Hindu di Kaharingan, Toraja, Medan, Tengger, Banyuwangi, Yogyakarta, dan lain-lain. Bahkan di negri India sendiri, antar wilayah, apalagi antar sektenya, juga memiliki karakter dan cara mempraktikkan ajaran Hindu secara berbeda-beda, malah tidak jarang satu sama lain saling bertentangan, meski tetap dengan label nama Hindu.

        Demikian juga dengan apa yang dipertanyakan di atas, kalau menurut kepercayaan lokal Bali tentang “roh manusia hidup terus” yang kemudian dikemas acuannya dalam ajaran Hindu yang disebut Punarbhawa (panumadian) dan Karmaphala (hukum sebab akibat), maka apabila terjadi kelahiran, setidaknya akan diketahui melalui tradisi “mapatuwun” (meluasang di Balian), yang dianggap manumadi/numitis/reincarnasi, dan pasti berasal dari leluhur keluarga yang bersangkutan, terutama dari pihak Purusa (pihak laki), seperti kakek, kumpi, buyut, paman, dan lain-lain, bukan dari leluhur pihak Pradana (Ibu), apalagi dari tetangga.

        Meluasang ke Balian dengan maksud mempertanyakan siapa yang manumadi, boleh saja dilakukan sebagai tradisi kepercayaan lokal Bali (nusantara). Sementara acuan Hindunya tetap didasarkan atas konsep sradha Punarbhawa dan Karmaphala sebagaimana tersurat dalam kitab Bhagawadgta, II.29 yang menyatakan bahwa : “Sesungguhnya setiap yang lahir, kematian adalah pasti, dan demikian pula setiap yang mati, kelahiran adalah pasti, dan ini tak terelakkan, karena itu tak ada alasan engkau merasa menyesal”.

        Jadi, pada ajaran Hindu, memang tidak secara jelas disebutkan perihal siapa yang manumadi pada setiap kelahiran. Yang pasti, manusia manumadi ke dunia tidak lepas dari hukum Karmaphala. Bahwa perbuatan-perbuatannya semasa hidup di dunia, entah itu baik (subhakarma/dharma) atau tidak baik (asubhakarma/adharma) akan menjadi “penentu” bagaimana (bukan siapa) seseorang itu dilahirkan kembali (manumadi); apakah tetap menjadi manusia, atau justru turun derajat menjadi hewan, tumbuh-tumbuhan atau dilahirkan kembali menjadi orang tampan, vantik, jelek, pintar, bodoh, kaya, miskin, terhormat, cacad, terhina, dll, kesemuanya itu menurut konsep Hindu sangat tergantung pada karmawasananya, yaitu bekas/jejak karma (subha/asubha) yang ditinggalkan seseorang.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana