Makna Sugihan Jawa-Bali

        Apa sebenarnya makna rerainan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, dan mengaa umat Hindu di Bali umumnya hanya melaksanakan salah satu saja dari rerainan tersebut ?

        Rerainan Sugihan (Jawa-Bali) merupakan salah satu dari serangkaian rerainan jagat Galungan. Dimulai dari tumpek Wariga (Saniscara Kliwon Wariga), sampai berakhir pada Pegat Wakan (Budha Kliwon Pahang) yang berlangsung dalam kurun waktu 60 hari. Namun dalam praktiknya yang umum dilaksanakan adalah rerainan Sugihan (dengan melaksanakan salah satu sugihan saja), lalu memuncak pada hari suci Galungan dan dianggap berakhir pada rerainan Kuningan. Khusus untuk Sugihan, sebenarnya ada satu lagi yang bahkan pelaksanaannya mendahului Sugihan Jawa-Bali, yaitu Sugihan Pangenten yang dilaksanakan pada Budha Pon wuku Sungsang, lalu menyusul berturut-turut Sugihan Jawa pada Wrespati Wage wuku Sungsang dan baru kemudian Sugihan Bali pada Sukra Kliwon wuku Sungsang.

        Makna rerainan Sugihan itu sendiri sebenarnya adalah sebagai hari pembersihan dan atau penyucian bhuwana. Sugihan Pangenten bermakna mengingatkan (ngentenin) umat akan pentingnya melakukan pembersihan/penyucian mengingat akan datang rerainan gumi Galungan. Lalu Sugihan Jawa adalah bermakna pembersihan/penyucian bhuwana agung (dunia beserta segala isinya), sedangkan Sugihan Bali bermakna pembersihan/penyucian bhuwana alit yang tidak lain dari umat/manusia itu sendiri. Pembersihan/penyucian disini dimaksudkan tidak saja secara lahir/fisik, tetapi yang jauh lebih penting, terutama yang wajib dilakukan umat sedharma adalah secara rohani/bathin guna mendorong ke arah tumbuhnya kesadaran spiritual sebagai tujuan utama manusia beragama.

        Tentang adanya istilah Jawa dan Bali pada rerainan Sugihan sebenarnya tidak terkait langsung dengan persoalan kedaerahan/kesukuan atau keturunan darah (Bali asli/Bali Majapahit). Sebagaimana lazimnya orang Bali memberi istilah, sesuatu yang bersifat “keluar/diluar” lumrah disebut “Jawa”. Contoh, di masa lalu, jika orang Bali itu pergi ke luar daerah , biasanya dikatakan “ke Jawa”, padahal bisa saja ia pergi ke Kalimantan, Sumatera, atau Sulawesi. Setali tiga uang dengan nama Sugihan Jawa, karena bermakna pembersihan/penyucian “keluar/diluar” diri manusia yaitu bhuwana agung, maka tak aneh juga disebut Sugihan Jawa. Dan untuk mencarikan lawan kata Jawa, tidak ada kata lain lagi selain sebutan Bali. Seolah-olah orang Bali di waktu lampau, hanya mengenal dua daerah (suku) yaitu Bali untuk tempat tinggal asalnya dan Jawa untuk menyebut semua daerah manapun yang ada/berada di luar Bali.

        Namun ada juga yang menghubungkan lahirnya istilah Sugihan Jawa itu dengn bunyi lontar Purana Bali Dwipa, yang menyatakan : “Pemasukan pajak hasil bumi dari luar pulau Bali yakni Maksar, Sumabwa, sasak dan Blambangan, yang dibawah kekuasaan baginda raja di Bali, diupacarakan pada Wrespati Wage wuku Sungsang yang merupakan hari Sugihan Jawa. Khsus bag penduduk Bali asli, upacara dilaksanakan pada Sukra Kliwon wuku Sungsang yang merupakan hari Sugihan Bali…”.

        Yang jelas, apapun latar belakangnya, makna Sugihan Jawa-Bali tetap sebagai media ritual untuk membersih-sucikan bhuwana agung dan terutama bhuwana alit/umat.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana