Keseimbangan Tri Hita Karana

Tri Hita Karana adalah konsep keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan juga dengan alam. Namun dalam kenyataannya, umat Hindu lebih menonjolkan hubungannya ke hadapan Tuhan(niskala), sementara hubungannya dengan sesama dan lingkungan alam (sekala) tidak begitu dipedulikan, bagaimana pendapat pengasuh?

        Dari segi konsep, ajaran Hindu yang bersumber pada kitab suci Weda sebagaimana menjadi sifatnya adalah maha sempurna. Artinya segala hal yang menyangkut kehidupan di dunia niskala ataupun sekala semuanya sudah tersurat, hanya saja belum tersirat dalam praktek kehidupan nyata. Dengan kata lain, secara konseptual masih jauh dari harapan. Apa yang disampaikan sekaligus dipertanyakan di atas memang benar adanya. Dalam konteks Tri Hita Karana (THK) yang merupakan hubungan serasi antara manusia dengan Tuhan (Parhyangan), manusia dengan sesama (Pawongan), dan manusia dengan alam lingkungan (Palemahan) memang sepatutnya harus dapat berjalan secara sinergis dan harmonis, sehingga kesejahteraan dan kebahagiaan yang menjadi tujuan utama benar-benar dapat diwujudnyatakan dan kemudian dirasakan hasilnya.

        Akan tetapi, seperti sudah menjadi bagian dari sikap dan perilaku hidup keberagaman umat Hindu, soal hubungan ke niskala memang sungguh luar biasa ditunjukkan, apalagi jika menyangkut praktek ritual yadnya, tak dapat diragukan lagi ketaatannya. Ini dapat dibuktikan ketika upacara yadnya dari tingkatan kanista, madya sampai utama dilaksanakan, segala wujud bhakti ditunjukkan, mulai dari ngaturang ayah, medana punia, sampai ngaturang bhakti, dll, semuanya berjalan dengan sidhakarya, meski belum tentu sidhaning don (mencapai tujuan).

        Contoh kecil dapat ditunjukkan, dalam hal pedek tangkil ke Pura misalnya, umat hHindu begitu bergairah dan nampak semarak bahkan meriah. Namun soal kesadaran beretika saat ke/di Pura, harus diakui secara umum etika umat Hindu masuh sangat rendah, misalnya dalam hal berbusana kebanyakan berpenampilan selebritis yang berunsurkan penonjolan gaya (model/fashion) dan cenderung bersifat materialistis, kapitalis, konsumeris, serta bertendensi hedonis, yaitu mencari dan menikmati kesenangan belaka.

        Belum lagi ketika berada di dalam Pura, sering sekali terjadi umat susah diatur, duduk seenaknya, menyela bahkan melangkahi umat lainnya yang sedang duduk sembahyang. Sering juga umat saat menunggu kesempatan sembahyang, menggunakan waktunya untuk mengobral cerita bahkan mengobral gossip murahan. Banyak juga yang asik bermain atau berkomunikasi lewat handphone yang dibawa meski saat acara persembahyangan sudah dimulai. Lalu usai melakukan persembahyangan, sisa-sisa sarana persembahyangan seperti canang, bunga, tas kresek, bungkus dupa, termasuk kemasan makanan, kulit/punting rokok begitu entengnya dibiarkan berserakan di area suci Pura, seakan Pura berubah fungsi sebagai tong sampah.

        Ditambah lagi saat usai persembahyangan berlangsung, umumnya umat melangsungkan acara bersenang-senang dengan berbelanja di seputar Pura yang biasanya memang mengundang banyak pedagang yang sangat paham umat Hindu itu gemar belanja. Ada juga yang mengikuti kegiatan lain yang sebenarnya justru bertentangan dengan tujuan di Pura yaitu mencari ketenangan, seperti bermain judi (tajen, bol adil, kocokan, makeles, lempar gelang-gelang, dll). Kesemua itu menggambarkan bahwa soal bhakti umat, terutama dalm hal ritual yadnya (parahyangan) memang tak perlu disangsikan lagi, tetapi soal kesadaran beretika, apalagi kesadaran memanusiakan manusia dan alam, justru masih jauh dari harapan.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana

Leave a Comment