Etika Ke Pura

        Perkembangan trend mode membuat umat Hindu pergi pedek tangkil ke Pura seperti hendak ke acara pesta. Dapatkah pengasuh memberikan semacam tuntunan dalam beretika saat ke Pura agar tidak terkesan seenaknya saja ke Pura!

        Perkembangan trend mode memang tidak bisa dicegah, termasuk umat Hindu yang begitu saja mengikutinya tanpa memperhatikan lagi ruang dan waktu mempergunakannya. Sehingga muncul kesan, umat Hindu dengan seenaknya, tanpa memperhatikan etika/kesusilaan pergi ke Pura dengan penampilan (berbusana) yang sebenarnya lebih layak untuk ke acara-acara pesta. Ada beberapa tuntunan etika yang dapat disampaikan, yaitu perhatikan dulu jenis-jenis busana/pakaian yang dikenal sesuai peruntukan, seperti : berpakaian sehari-hari, pakaian resmi, pakaian aksi (bergaya), dan pakaian tradis-religi (adat/daerah).

        Dalam konteks ke Pura (sembahyang), sudah sepatutnya menggunakan busana/pakaian adat ke Pura yang “asuci laksana” (bersih, sopan, rapi, sederhana). Sebagaimana kategorinya, pakaian adat ke Pura termasuk ke dalam pakaian tradisi-religi yang meskipun bersifat profan tetapi karena digunakan di tempat suci maka dipandang bersifat sakral, dan berfungsi untuk mendukung suasana kontemplatif yang sangat memerlukan ketenangan, kesucian dan konsentrasi.

        Oleh karena itu, busana adat ke Pura yang dikenakan diusahakan tidak berpeluang memancing, atau mengundang perhatian yang mengarah pada terganggunya pikiran/konsentrasi oleh hal-hal (penampilan) yang bersifat merangsang (erotis), terutama pihak wanitanya dengan berbusana kebaya tipis (transparan), sehingga nampak bagian kulit mulusnya, ditambah belahan dada rendah menyembulkan sebagian buah dadanya, serta pemakaian kain (kamben) yang tinggi (gantut macincingan) hingga nampak bagian betis, bahkan paha yang bisa kelihatan jelas saat melangkahkan kaki (berjalan).

        Yang prianyapun terkesan berbusana asal-asalan, tidak lagi mengenakan baju safari yang dulu begitu lumrah dikenakan seolah sudah menjadi busana seragam. Begitupun pemakaian kain (kamben), bagian bawahnya hanya sebatas lutut disertai ikatan selendang di pantat (bukan di pinggang) dan umumnya tanpa mengenakan saput plus pemakaian udeng/destar yang sudah dimodifikasi tanpa bentuk dan makna. Jenis model berbusana seperti terurai di atas ini jelas sekali tidak etis, tidak tepat bahkan tidak benar jika dikenakan saat ke Pura, kecuali mungkin untuk ke acara pesta/resepsi.

        Belum lagi soal etika diluar penampilan, yang berhubungan dengan sikap/perilaku umat ke Pura juga ada tuntunannya yang selalu berlandaskan pada norma kesopanan/kesusilaan, seperti masuk ke area Pura dengan sepatutnya dengan tertib, tidak banyak bicara (ribut), yang berpasagan (laki-perempuan) tidak berpegangan tangan atau memeluk pinggang. Setiba di jeroan Pura, mengambil sikap duduk sesuai dengan jenis kelamin (pria mesila/padmasana, wanita metimpuh/bajrasana).

        Sat berada di are Pura, sebaiknya tidak berjalan/lalu lalang atau membelakangi umat yang sedang khusuk sembahyang apalagi sampai melangkahi/menginjak canang/bunganya. Begitupun setelah nunas tirtha dan bija, agar memungut kembali sisa alat persembahyangan untuk dibawa ke tempat sampah, sehingga Pura yang adalah tempat suci tetap terjaga kebersihannya, tidak seperti tempat pembuangan sampah yang kotor. Hanya dengan kesadaran umat untuk mematuhi tuntunan etika (berpenampilan, bersikap/perilaku) maka makna dan maksud ke Pura untuk meningkatkan sraddha dan bhakti akan dapat dicapai. Jika tidak demikian, ke Pura tak bedanya dengan seperti halnya ke tempat publik lainnya, serba bebas, seenaknya dan jauh dari tuntunan etika.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana

Leave a Comment