Etika Adalah Buah Yadnya

Sepengetahuan saya, yadnya yang dilaksanakan melalui berbagai upacara dan upakara hanyalah merupakan bagian kulit luar, yang seharusnya dapat ditingkatkan menuju prakteketika dan pendalaman tattwa. Namun kenyataanya, umat Hindu umumnya merasa sudah beragama hanya dengan melaksanakan yadnya, mohon tanggapan !

Seperti sudah sering disampaikan, agama Hindu dibangun di atas tiga kerangka yaitu Tattwa (filosofi), Susila (etika), dan Upacara (yadnya). Ibarat telur, ketiga kerangka itu sering diidentikkan dengan sebutir telur. Kuning telur ibarat Tattwa sebagai elemen inti (substansi), Susila sebagai elemen isi (esensi) dan Upacara/yadnya hanya sebagai komponen materi (kulit/kemasan). Ketiganya memamng penting dan merupakan satu kesatuan untuk menyangga kerangka agama Hindu, yang dalam praktiknya ketiga-tiganya wajib dilaksanakan.

Hanya saja ibarat telur, ketika kita hendak memanfaatkannya misalnya dengan memakan, tentu saja bagian kulitnya harus dibuka,dilepas kemudian diibuang. Sebab elemen kulit telur itu hanya diperlukan saat telur masih sebagai telur. Namun ketika telur tersebut akan didayagunakan sebagai pemasok energi protein yang diperlukan badan, maka hanya bagian putih dan kuning telurnya saja yang dapat dinikmati. Begitupun dengan praktik ritual yadnya, ketika kebanyakn umat masih berada di level karma dan bhakti marga, maka bagian kulit dalam bentuk ritual yadnya itu tetap diperlukan, sebagai nyasa yang sarat dengan simbolisasi makna.

Akan tetapi ketika umat mulai masuk dan menjadi pengaut jnana dan raja/yoga marga, maka pada level ini boleh dikatakan umat sudah berada di tataran spiritual alias “sepi-ritual”, artinya umat tidak lagi mengedepankan praktek ritual, meski tidak juga ditinggalkan sepenuhnya. Sebab dalam pemahaman spiritual, relasi yang terjadi antara umat dan Hyang Widhi bersifat individual dan langsung, dan meciptakan ruang “kebebasan” bagi umatnya untuk melakukan pendakian rohani guna mencapai-Nya. Hanya saja, karena praktik keberagaman selalu berkaitan dengan persoalan sosial, maka berperilaku agama, setidaknya untuk umat Hindukebanyakan, praktik ritual (yadnya) masih tidak dapat dikesampingkan apalagi ditinggalkan, betapapun sudah ada yang mulai merasakannya sebagai “beban” – beban material dan sumber daya alam yang semakin terbatas daya dukungnya.

Karena itu, agar praktik ritual yadnya tidak sia-sia dilaksanakan, maka upayakan yadnya itu membuahkan hasil. Apa hasilnya, sesuai tri kerangka agama Hindu, maka praktik yadnya harus membuahkan hasil dalam bentuk perbaikan kesusilaan (etika) dan mendorong peningkatan menuju pendalaman Tattwa. Jika hal itu dapat berjalan, tanda baik yang tempak adalah terjadi peningkatan kualitas “me-mo-ri” umat Hindu berupa perbaikan sikap mental, menjadi semakin positif dan konstriktif, lalu moral kian berakhlakdan berhasil mencapai kesadaran spiritual.

Artinya, setelah melaksanakan upacara yadnya, keadaan kehidupan baik sumber daya alam, dan terutama kehidupan antar manusia semestinya semakin serasi, selaras, seimbang dan atau harmonis. Bentuk praktiknya, semakin sering melaksanakan yadnya, akan semakin meningkat juga kualitas daya dukung alam dan etika kemanusiaan dengan perilaku yang lebih menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Bukan sebaliknya, yadnya terus saja dilaksanakan, tetapi keadaan alam dan sifat-sifat manusia justru kian terpuruk dan cenderung semakin buruk, sehingga simbol-simbol yadnya yang begitu ideal menjadi kehilangan maknanya.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana

Leave a Comment