Etika Ke Pura

        Perkembangan trend mode membuat umat Hindu pergi pedek tangkil ke Pura seperti hendak ke acara pesta. Dapatkah pengasuh memberikan semacam tuntunan dalam beretika saat ke Pura agar tidak terkesan seenaknya saja ke Pura!

        Perkembangan trend mode memang tidak bisa dicegah, termasuk umat Hindu yang begitu saja mengikutinya tanpa memperhatikan lagi ruang dan waktu mempergunakannya. Sehingga muncul kesan, umat Hindu dengan seenaknya, tanpa memperhatikan etika/kesusilaan pergi ke Pura dengan penampilan (berbusana) yang sebenarnya lebih layak untuk ke acara-acara pesta. Ada beberapa tuntunan etika yang dapat disampaikan, yaitu perhatikan dulu jenis-jenis busana/pakaian yang dikenal sesuai peruntukan, seperti : berpakaian sehari-hari, pakaian resmi, pakaian aksi (bergaya), dan pakaian tradis-religi (adat/daerah).

        Dalam konteks ke Pura (sembahyang), sudah sepatutnya menggunakan busana/pakaian adat ke Pura yang “asuci laksana” (bersih, sopan, rapi, sederhana). Sebagaimana kategorinya, pakaian adat ke Pura termasuk ke dalam pakaian tradisi-religi yang meskipun bersifat profan tetapi karena digunakan di tempat suci maka dipandang bersifat sakral, dan berfungsi untuk mendukung suasana kontemplatif yang sangat memerlukan ketenangan, kesucian dan konsentrasi.

        Oleh karena itu, busana adat ke Pura yang dikenakan diusahakan tidak berpeluang memancing, atau mengundang perhatian yang mengarah pada terganggunya pikiran/konsentrasi oleh hal-hal (penampilan) yang bersifat merangsang (erotis), terutama pihak wanitanya dengan berbusana kebaya tipis (transparan), sehingga nampak bagian kulit mulusnya, ditambah belahan dada rendah menyembulkan sebagian buah dadanya, serta pemakaian kain (kamben) yang tinggi (gantut macincingan) hingga nampak bagian betis, bahkan paha yang bisa kelihatan jelas saat melangkahkan kaki (berjalan).

        Yang prianyapun terkesan berbusana asal-asalan, tidak lagi mengenakan baju safari yang dulu begitu lumrah dikenakan seolah sudah menjadi busana seragam. Begitupun pemakaian kain (kamben), bagian bawahnya hanya sebatas lutut disertai ikatan selendang di pantat (bukan di pinggang) dan umumnya tanpa mengenakan saput plus pemakaian udeng/destar yang sudah dimodifikasi tanpa bentuk dan makna. Jenis model berbusana seperti terurai di atas ini jelas sekali tidak etis, tidak tepat bahkan tidak benar jika dikenakan saat ke Pura, kecuali mungkin untuk ke acara pesta/resepsi.

        Belum lagi soal etika diluar penampilan, yang berhubungan dengan sikap/perilaku umat ke Pura juga ada tuntunannya yang selalu berlandaskan pada norma kesopanan/kesusilaan, seperti masuk ke area Pura dengan sepatutnya dengan tertib, tidak banyak bicara (ribut), yang berpasagan (laki-perempuan) tidak berpegangan tangan atau memeluk pinggang. Setiba di jeroan Pura, mengambil sikap duduk sesuai dengan jenis kelamin (pria mesila/padmasana, wanita metimpuh/bajrasana).

        Sat berada di are Pura, sebaiknya tidak berjalan/lalu lalang atau membelakangi umat yang sedang khusuk sembahyang apalagi sampai melangkahi/menginjak canang/bunganya. Begitupun setelah nunas tirtha dan bija, agar memungut kembali sisa alat persembahyangan untuk dibawa ke tempat sampah, sehingga Pura yang adalah tempat suci tetap terjaga kebersihannya, tidak seperti tempat pembuangan sampah yang kotor. Hanya dengan kesadaran umat untuk mematuhi tuntunan etika (berpenampilan, bersikap/perilaku) maka makna dan maksud ke Pura untuk meningkatkan sraddha dan bhakti akan dapat dicapai. Jika tidak demikian, ke Pura tak bedanya dengan seperti halnya ke tempat publik lainnya, serba bebas, seenaknya dan jauh dari tuntunan etika.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana

Sembahyang Tanpa “Haturan”

        Dalam suatu perjalanan, ketika menjumpai Pura, timbul keinginan untuk tangkil, tetapi masalahnya tidak membawa “haturan”, etiskah atau bolehkah sembahyang ke Pura tanpa mempersembahkan “haturan”, mohon dielaskan!

        Sembahyang atau sering juga disebut “ngaturang bhakti” memang menjadi kewajiban bagi setiap umat Hindu. Bentuknya, mulai dari yang paling sederhana berupa mengucapkan doa-mantra ketika hendak melakukan suatu kegiatan, lalu melaksanakan Tri Sandhya, menghubungkan diri dengan Hyang Widhi tiga kali sehari (pagi, siang, sore/malam). Dan bila belum terbiasa, bisa hanya satu kali atau dua kali atau cukup dengan melantunkan bait pertama Tri Sandhya yang disebut sebagai “ibu dari segala mantra” yaitu gayatri mantra.

        Boleh juga dengan “nyakupang kara kalih” yaitu hanya ngaturang Panca Sembah saja. Bentuk-bentuk persembahyangan di atas sama sekali tidak mengharuskan menggunakan “haturan” kecuali sarana kelengkapannya seperti bunga, dupa, kalau ada kewangen atau canang lebih baik lagi. Tetapi ingat, tanpa sarana itupun dapat melakukan persembahyangan, termasuk ke Pura. Karena menurut konsep tattwa, ketika tidak ada atau tidak membawa apa-apa, Padmahredaya yang tidak lain dari “bunga hati” berupa niat, hati yang bersih suci dan tulus ikhlas akan menjadi media yang jauh lebih utama dibanding sekadar sarana. Jadi, meski tanpa membawa “haturan”, apabila persembahyangan dilakukan dengan penuh rasa bhakti akan diterima juga oleh Hyang Widhi.

        Memang, sudah menjadi kewjiban bahwa selain melakukan persembahyangan, sepatutnya umat Hindu menghaturkan juga suatu persembahan yang lumrah disebut dengan “haturan”  dalam bentuk upakara bebanten, seperti canang, sodan, pejati, dll. Ini adalah amanat bunyi kitab Bhagawadgita , III. 12, bahwa: “dipelihara oleh yadnya, para dewa akan memberikan kenangan yang diinginkan. Ia yang menikmati pemberian-pemberian ini dengan tanpa memberikan balasan (meyadnya) kepada-Nya adalah pencuri”.

        Namun, meski demikian bukan berarti persembahan “haturan” itu merupakan keharusan. Untuk hal-hal yang berhubungan dengan situasi tertentu seperti dalam perjalanan, dimana tanpa perencanaan tiba-tiba berkeinginan untuk tangkil ke Pura, dengn hanya membawa diri sajapun persembahyangan dapat dilakukan. Bahkan dengan tidak mengenakan bhusana adatpun, tangkil ke Pura dibolehkan sepanjang telah mengenakan pakaian yang bersih, sopan, dan rapi.

        Dengan modal niat, kebersihan pikiran, kesucian hati dan perasaan yang tulus ikhlas sudah lebih dari utama untuk tangkil ke Pura dan lanjut melakukan sembah-bhakti. Jika masih memungkinkan tetap diusahakan untuk minimal mendapatkan sarana persembahyangan seperti bunga yang mungkin dapat dipetik di sekitar areal Pura. Tidak jarang juga di Pura tertentu disediakan, setidaknya selendang untuk masenteng/ubed-ubed. Selanjutnya, sangat baik sekali, jika akan melakukan suatu perjalanan, dimana terdapat pura yang akan dilewati, atau paling tidak ada palinggih pangayatannya di pinggir jalan, sejak dari keberangkatan sudah dipersiapkan segala sesuatunya baik sarana persembahyangan maupun “haturan”, yang nantinya setelah dipersembahkan akan menjadi prasadam untuk dilungsur alias dinikmati juga.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana

Yadnya Masa Kini

        Selama ini ada anggapan bahwa “meyadnya” itu sama dengan melaksanakan kegiatan upacara dengan upakara bebantenannya. Apakah memang seperti itu ? Bagaimana untuk kepentingan masa kini, apakah yadnya bisa diwujudkan ke dalam bentuk lain yang tidak bersifat ritual saja?

        Secara harfiah “Yadnya” berarti kurban suci yang dilakukan secara tulus ikhlas dan tanpa pamrih. Bentuknya seperti dipertanyakan di atas memang cenderung dan dominan di seputar ritual dengan cara melakukan kegiatan upacara lengkap dengan upakara bebantennya. Itu tidak salah meski tidak sepenuhnya tepat. Sebab sebagaimana arti katanya, apalagi kalau dikaitkan konteks kehidupan umat sekarang ini, sudah saatnya bentuk dan jenis yadnya dapat diperluas makna dan faktanya. Tidak lagi hanya bergerak di sekitar “ngaturang bebanten” tetapi dapat juga diwujudkan ke dalam aneka ragam kegiatan yang mencerminkan sifat-sifat pengorbanan, persembahan, pengabdian, dan pelayanan, terutama kepada umat sedharma yang memang dalam keadaan patut dibantu,baik dalam peningkatan sumber daya manusianya, persoalan kesejahteraan hidupnya, termasuk dalam hal pendidikan dan penanganan kesehatannya.

        Contoh kongkret Yadnya masa kini dapat diungkap, dalam hal “pengorbanan” misalnya dapat dilakukan dengan menyediakan waktu untuk lebih memperhatikan masalah pembinaan dan peningkatan sradha bhakti anggota keluarga. Mulai dari arahan untuk selalu melaksanakan kewajiban mesaiban, matrisandhya, rajin ke Pura sampai medana punia. Pengorbanan juga dapat ditunjukkan dengan membantu umat sedharma yang nyata-nyata memerlukan bantuan material-finansial, baik untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kelanjutan pendidikan dan juga urusan kesehatannya.

        Lalu dalam bentuk “persembahan” antara lain dapat direalisasi dengan “ngaturang uparengga” berupa alat kelengkapan persembahyangan, seperti tedung, canting tirtha, dupa, wastra bahkan bisa juga berbentuk Palinggih. Kemudian yang merupakan bentuk “pengabdian” dapat diwujudkan dalam melakukan kegiatan mengabdi dalam pembinaan dan peningkatan pengetahuan atau jnana serta tattwa umat yang dirasakan teramat kurang, seperti membentuk seke santi, mendirikan pasraman atau memberikan dharma wacana. Dan satu lagi bentuk yadnya yang dapat dilakukan sesuai tuntunan kehidupan masa kini adalah bagaimana setiap umat terutama yang berkemampuan lebih untuk dapat memberikan “pelayanan” dalam bidang apapun demi kepentingan umat, seperti memberikan pelayanan kepada para penghuni panti werda, panti asuhan, penderita penyakit akut, kelainan mental termasuk pada umat yang mengalami gangguan mental, sakit jiwa, atau yang sedang mengalami masalah sosial.

        Apa yang terurai diatas adalah bentuk dan jenis-jenis Yadnya yang di masa sekarang ini jauh lebih nyata, bermakna sekaligus mengena karena benar-benar dibutuhkan umat ketimbang terbatas hanya bergerak di seputar ritual. Kegiatan ritual memang wajib tetap dijalankan, tetapi pengembangannya agar lebih berarti, lagi harus dimulai dengan mengejawantahkan makna yadnya ke dalam konteks sosial-horizontal (sekala), tidak semata-mata individual-vertikal (niskala). Bagaimanapun juga bentuk bhakti tertinggi sesungguhnya adalah melayani Tuhan dengan cara melayani sesama manusia dan makhluk hidup lainnya.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana

Yadnya Tanpa Banten

        Jika suatu saat oleh sebab krisis, kondisi alam tidak lagi dapat memberikan daya dukung terhadap pemenuhan kebutuhan akan sarana upakara bebanten, dapatkah meyadnya tanpa disertai haturan banten?

        Pertanyaan diatas tergolong kritis dan amat wajar disampaikan mengingat keadaan sekarang lumayan krisis, terutama dalam hal ketersediaan sumber daya alam yang belakangan ini memang mulai dirasakan mengalami kesulitan untuk memenuhinya. Sampai-sampai hampir segala kebutuhan material bahan upakara yadnya didatangkan dari berbagai daerah luar bali. Ini merupakan pertanda tidak baik, terutama jika yadnya hanya diartikan sebagai bentuk pelaksanaan upacara dengan upakara bebantennya, seperti yang selama ini berlangsung di Bali. Jika suatu saat ketersediaan sumber daya alam sampai berada di titik kritis, bahkan terancam habis, maka apa hendak dikata, yadnyapun harus disesuaikan bentuknya sesuai dengan keadaan.

        Sebab mengacu pada arti yadnya, sesungguhnya sebstansi maknanya adalah sebagai sebuah ‘pengorbanan’, yang dalam arti sempit diwujudkan ke dalam bentuk persembahan, khususnya dalam bentuk upakara bebanten. Padahal, makna yadnya sesungguhnya amat luas, yaitu dapat juga diartikan sebagai bentuk kehormatan, penghargaan, pengabdian atau pelayanan.

        Dalam konteks zaman kini yang acapkali dipersamakan dengan zaman Kali (Kaliyuga), di dalam teks Slokantara-81 (65) dengan jelas sudah diisyaratkan, bahwa : “Di waktu zaman Kerta (Kretayuga) tapabratalah yang diutamakan, di dalam zaman Treta (Tretayuga) pengetahuan yang diutamakan, di zaman Dwapara (Dwaparayuga) upacara korbanlah (yadnya) yang diutamakan dan di zaman Kali (Kaliyuga) hanya dana (uang dan benda) yang diutamakan”.

        Artinya, disaat kondisi ketersediaan sumber daya alam sudah berada pada tingkat krisis atau kritis bahkan nyaris habis, maka melalui dana (harta benda) yang dimiliki dapat juga melakukan yadnya. Tidak selalu dalam bentuk upakara bebanten, tetapi lebih kepada usaha mewujudkan bhakti melalui bentuk-bentuk pengabdian atau pelayanan (seva). Dan juga tidak semata-mata hanya bersifat vertikal (kehadapan-Nya), tetapi terutama lagi yang berkaitan dengan kepentingan horizontal, yang bermanfaat bagi usaha “memanusiakan manusia”.

        Sebab kata orang bijaksana, bhakti kita kepada Tuhan dapat diwujudkan dalam bentuk pelayanan kepada sesama manusia, dengan segala aktivitasnya, seperti membantu keluarga miskis, mendonasi peningkatan kualitas pendidikan, menolong orang sakit, memberdayakan sumber daya manusia Hindu, dan sejenisnya.termasuk juga mengupayakan pemulihan kembali sumber daya alam yang semakin krisis, antara lain dengan penanaman pepohonan yang sangat dibutuhkan dalam pembuatan upakara bebanten, menjaga tetap lestarinya sumber-sumber mata air, mempertahankan kawasan hutan, perkebunan, persawahan dari jamahan para pendatang luar, dan sebagainya.

        Singkat kata, sadar bahwa keadaan alam akan semakin krisis, maka wujud-wujud yadnya masa kini, tidak harus selalu dalam bentuk banten semata. Sebab, makna yadnya itu sendiri dapat diperluas ragam dan bentuknya ke dalam kegiatan lain yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya alam dan manusia itu sendiri.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana

Ogoh-Ogoh Dan Nyepi

        Apakah arak-arakan ogoh-ogoh setelah pelaksanaan Tawur Agung Kesanga itu merupakan satu rangkaian dengan hari suci Nyepi?

        Pada dasarnya agama hindu, apalagi yang berkembang di Bali sangat kaya dengan kreativitas budaya. Termasuk munculnya kreasi ogoh-ogoh sejak era tahun 80-an. Tetapi harus diingat, sebagai umat hindu yang baik dan benar, sepatutnya mengetahui dan atau memahami mana bagian dari praktik agama Hindu yang sebenarnya merupakan unsur budaya (cipta-rasa-karsa manusia) dan mana yang sesungguhnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ajaran agama Hindu yang adalah wahyu Tuhan.

        Jika mengacu kepada konsep, yang termasuk rangkaian hari suci Nyepi adalah mulai dari melasti/melis, yang biasanya dilaksanakan beberapa hari menjelang Nyepi lalu pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya mulai dari tingkatan ngaturang segehan satus kutus (di rumah tangga) sampai tawur agung (di tingkat Provinsi) yang dilaksanakan siang hari sehari sebelum Nyepi dan dilanjutkan pada sore menjelang malam hari melakukan upacara Pangrupukan (mabuu-buu) sebagai simbolisasi menetralisir (nyomyang) kekuatan-kekuatan negatif yang digambarkan dalam wujud para bhutakala.

        Oleh para generasi muda Hindu, momen Pangrupukan sebagai simbolisasi penetralisir bhutakala itulah, agar nampak lebih jelas objek yang disasar, dibuatlah kreasi wujud realnya sebagaimana lumrah digambarkan di dalam karya sastra (pustaka Hindu). Dimana para bhutakala itu diidentikkan sebagai kekuatan-kekuatan negatif, yang bersifat jahat, dengan tampilan wajah seram, dan sangat menakutkan dan siap mencari dan memangsa korban, yang kemudian diwujudkan ke dalam bentuk kreasi budaya yang lazim disebut ogoh-ogoh.

        Menjawab pertanyaan di atas, cukup jelas bahwa kreasi dan arak-arakan ogoh-ogoh itu memang tidak ada kaitan langsung dengan rangkaian Nyepi. Arak-arakan ogoh-ogoh hanya sebagai kreasi budaya yang mengadopsi simbol-simbol Hindu untuk lebih kongkrit dalam penggambaran objek yang hendak dinetralisir sat pelaksanaan Pangrupukan. Ini berarti, ada atau tidak ogoh-ogoh rangkaian pokok hari suci Nyepi tetap berlangsung. Yang pasti jika memang diadakan ogoh-ogoh, mulai dari membuatnya, apalagi yang terbiasa “idih-idih dana” jangan sampai memaksa orang lain untuk menyumbang. Begitu juga melakukan arak-arakan, tidak dibenarkan para pengusungnya justru yang terlebih dahulu minum miras, minuman kesukaan para bhutakala seperti tuak ataupun arak hingga mabuk yang dikhawatirkan akan menyulut perseteruan di jalanan saat pengusung ogoh-ogoh dari kelompok lain datang berpapasan.

        Disamping itu, logika ritualnya, jika pada siang atau sore hari para bhutakala itu sudah dinetralisir (somya) dan kembali ke alamnya, mengapa harus dibangunkan kembali untuk diarak melalui media ogoh-ogoh yang biasanya juga dipasupati (dihidupkan). Bukankah keadaan tenang atau terkendali (somya) akan menjadi ramai (ramya) lagi dengan suasana hinggar bingar, hiruk-pikuk arak-arakan ogoh-ogoh, lengkap dengan tetabuhan gong bleganjuran ditimpali teriakan ala suara-suara para raksasa, bhuta-bhuti, dedemit, leak ngakak, dll, yang boleh jadi kondisi magis dan berbau mistis itu malah bisa menjadi unsur pengganggu (pengrebeda) ketenangan umat yang keesokan harinya akan memasuki Nyepi, hari yang sangat disucikan umat Hindu itu.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana

Beda Tajen Dengan Tabuh Rah

        Sampai saat ini saya dibuat bingung, mana yang namanya “tajen” dan mana yang namanya “tabuh rah”, sebab keduanya sama-sama mengadu ayam. Tolong dijelaskan perbedaannya dan apa pula fungsinya?

        Benar, Tajen dan Tabuh Rah sering membuat kita bingung, karena kedua istilah ini seringkali dicampur-aukkan untuk kepentingan tertentu. Yang benar, Tajen itu-adalah adu ayam yang menggunakan senjata taji, sejenis pisau kecil yang teramat tajam dan diikatkan di kaki ayam. Dan pertarungan ayam aduan ini selalu disertai uang taruhan sehingga termasuk perjudian yang dilarang hukum dan juga agama. Sedangkan, yang namnya Tabuh Rah, adalah “taburan darah” yang didapat dari ayam yang diadu dan merupakan bagian dari prosesi suatu upacara bhuta yadnya. Pelaksanaan upacara Tabuh Rah ini dilakukan di areal Pura atau di tempat penyelenggaraan upacara yadnya dan yang pasti lagi tanpa menggunakan uang taruhan, jadi bebas dan bukan merupakan judi.

        Sebagaimana disebutkan dalam konsep tattwa, dalam suatu pelaksanaan upacara yadnya tertentu, persembahan kepada para Bhuta yang lima (Pancamahabhuta) wajib dilakukan sebagai upaya ritual untuk mencapai harmonisasi bhuwana (agung-alit). Untuk itu dipersembahkan unsur-unsur bhuta sebagai elemen terciptanya dunia, yang satu diantaranya adalah zat cair. Kalau di bhuwana agung, zat cair itu berupa “air”, sedangkan di bhuwana alit, zat cair itu tidak lain dari “darah”. Dan untuk mendapatkan “darah” itu, dalam suatu upacara bhuta yadnya, dapat dilakukan dengan :1. Memoton leher ayam kecil (pitik) atau babi kecil (celeng butuan yang disebut penyambleh. 2. Menikam atau menggorok binatang korban sehingga darahnya bertaburan atau bececeran, biasanya dilakukan pada upacara mapepada. Dan 3. Mengadu ayam gocekan di tempat upacara dengan tanpa taruhan. Dapat juga dilakukan dengan menyajikan darah mentah pada banten caru.

        Cukup jelas bukan perbedaan Tajen dengan Tabuh Rah. Persoalannya sekarang, seringkali dengan dalih dan atau mengatasnamakan Tabuh Rah, Tajen ikut dilaksanakan. Caranya, Tabuh Rah lebih dulu dijalankan sebagai bagian ritual yadnya, tetapi selepas itu diteruskan dengan kegiatan metajen, terurama digerakkan oleh para bebotoh. Ini yang salah kaprah, sehingga upacara yadnya yang bersifat suci, maening-ening menjadi ternoda oleh aktivitas judi yang menyertainya. Bahwa pelaksanaan Tabuh Rah itu merupakan bagian ritual yadnya yang disucikan, tersurat di dalam lontar-lontar, diantaranya lontar Yajna Prakerti yang bila diterjemahkan kurang lebih berarti : “…….pada waktu hari raya, diadakan pertarungan suci misalnya pada bulan kesanga, patutlah mengadakan pertarungan ayam tiga sehet lengkap dengan upakaranya……”.

        Degan berdasar pada petunjuk ontar diatas, tak ada keraguan atau kebingungan lagi untuk mendudukkan pada posisinya yang benar. Tajen sudah pasti judi, sedangkan Tabuh Rah adalah kegiatan religi yang berfungsi untuk mencapai harmonisasi jagat ini. Sekarang terpulang pada umat itu sendiri untuk dengan jujur dan teratur menata kembali, mana nilai-nilai yang membuat kita jadi hancur dan mana pula ajaran luhur yang patut dijunjung agar kita tidak semakin ngawur. Lagi pula dalam sejarahya tidak ada  kamus seorang pejudi menjadi kaya dan makmur, kecuali kehancuran. Karena itu sebaiknya umat Hindu tidak lagi menjadikan ajang ritual sebagai arena kegiatan legal seperti halnya judi tajen.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana

Jenis-Jenis Pelinggih Padma

        Setelah saya amati ternyata banyak ada jenis Palinggih Padma. Sebenarnya ada beberapa jenis Palinggih Padma lalu apa saja namanya dan untuk dirumah jenis yang mana lazim didirikan?

        Mengacu pada lontar Wariga Catur Wisana Sari, tipologi Palinggih Padma dapat dibedakan sebagai berikut: Pertama, berdasarkan tata letak sesuai arah mata angin (pangider-ider bhuwana) dibedakan menjadi sembilan jenis yaitu: (1) Padma Kencana, di Timur menghadap ke Barat, (2) Padmasana, di Selatan menghadap ke Utara, (3) Padmasari, di Barat menghasap ke Timur, (4) Padma Lingga, di Utara menghadap ke Selatan, (5) Padma Asta Sedhana, di Tenggara menghadap ke Barat Laut, (6) Padma Noja, di Barat Daya menghadap ke Timur Laut, (7) Padma Karo, di Barat Laut menghadap ke Tenggara, (8) Padma Saji, di Timur Laut menghadap ke Barat Daya, dan (9) Padma Kurung, di tengah-tengah menghasap ke pintu keluar/masuk.

        Kedua, berdasarkan bentuk Pepalihan (tingkatan atau undag) dan Rong (ruang), Palinggih Padma dibedakan menjadi lima janis, yaitu : (1) Padma Anglayang, memakai dasar Bedawangnala, bertingkat tujuh dan di puncaknya terdapat tiga ruang sebagai simbol sthana Sanghyang Siwa Raditya atau Sanghyang Tri Purusa dan juga Tri Murti, (2) Padma Agung, memakai Bedawangnala dertingkat lima dan di puncaknya terdapat dua ruang, sebagai simbol sthana Sanghyang Siwa Raditnya atau Sanghyang Tri Purusa dan juga Ardhanareswari, (3) Padmasana, memakai dasar Bedawagnala, bertingkat lima dan di puncaknya hanya terdapat satu ruang (singgasana) sebagai simbol sthana Sanghyang Siwa Raditya atau Sanghyang Tri Purusa dan juga Sanghyang Tunggal yaitu Tuhan Yang Maha Esa, (4) Padmasari, tidak memakai dasar Bedawangnala, bertingkat tiga an dipuncaknya terdapat satu ruang, sebagai simbol sthana Sanghyang Siwa Raditya atau Sanghyang Purusa, (5) Padma Capah, tidak memakai dasar Bedawangnala, brtingkat dua dan dipuncaknya terdapat satu ruang sebagai simbol sthana Sanghyang Widhi dalam manifestasi selaku Dewa Baruna (Dewa Lautan).

        Kemudian tentang jenis Palinggih Padma yang lazim didirikan di masing-masing rumah tangga atau tempat tinggal adalah Padmasari dan atau Padmasana. Untuk keluarga atau rumah tempat tinggal, terutama yang berada di rantauan  biasanya cukup hanya mendirikan palinggih Padmasari, yang sekalian dapat berfungsi sebagai “penyawangan/pengayegan” Ida Bhatara-Bhatari yang bersthana di Kemulan Wed (tempat/kampung asal), Akan tetapi jika hendak mendirikan Sanggah/Merajan (Kamulan/Rong Tiga) tidak perlu mendirikan Padmasari lagi.

        Lalu mengenai Palinggih Padmasana biasanya didirikan di Pura (umum) atau di area perkantoran, lantaran fungsinya bersifat universal, dimana semua umat Hindu bisa melakukan sembah bhakti kehadapan Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa tanpa membedakan asal soroh/wangsa dan atau kawitannya.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana

Apa Itu Mantra?

        Saya sering mendengar ada beberapa kata yang diartikan sama, meskipun sebenarnya berbeda, seperti kata mantra, puja dan seha. Apa arti kata-kata tersebut dan dalam hal apa dapat dibedakan?

        Kata “mantra” berasal dari kata “man” (manana) yang artinya “berpikir/pikiran” dan “tra” (trana) yang berarti bebas dari keterikatan. Arti kata mantra itu sendiri kemudian diberi makna bahwa dengan mengucapkan mantra seorang umat telah memikirkan tentang Hyang Widhi dengan pengharapan agar dirinya terbebas dari segala keterikatan duniawi yang menderitakan. Kemudian kata mantra itu berkembang menjadi kata “mamantra” (mengucapkan mantra) yang sering juga dipertukarkan pemakaiannya dengan kata “maweda/ngaweda” (mengucapkan weda) atau ada juga menyebutkannya dengan istilah “mapuja” bahkan “maseha”.

        Beragam istilah tersebut, terutama maweda, mapuja dan maseha, isi dan intinya adalah sama, yaitu pengucapan bait-bait mantra. Dan mantra itu sendiri berasal dari kitab suci Weda. Sebab Weda iu sesungguhnya berisi kumpulan mantra-mantra yang sifatnya sangat rahasia. Soal perbedaannya, antara lain terletak pada; (1) Subjek (pengucap mantra), dan (2) bahasa yang digunakan. Kalau yang mengucapkan mantra itu adalah seorang Sulinggih/Pandita (Sang Madwijati) maka dapat disebut “mamantra” atau “mapuja” dan bahasa mantra yang digunakan adalah sebagaimana asalnya bahasa Weda yaitu bahasa Sansekerta (Sanskrit). Sedangkan mantra yang dilantunkan dengan menggunakan bahasa campuran (sedikit bahasa Sanskrit, Jawa Kuno dan atau bahasa Bali (singgih) saja, lazim disebut “maseha” yang lumrah diucapkan oleh seorang Pinandita/Pemangku (Sang Ekajati).

        Yang jelas, meskipun istilah kata-katanya berbeda, namun apapun yang dilantunkan oleh pemimpin upacara yadnya pada hakekatnya berintikan pada pengucapan mantra-mantra yang bersumber dari kitab suci Weda. Dan untuk menucapkannya, tidak sembarang orang dapat melakukannya, kecuali untuk mantra yang bersifat sebagai doa-doa untuk suatu kegiatan tertentu, seperti doa makan, mendoakan orang meniggal, dll, bisa diucapkan oleh setiap umay (Hindu), termasuk mantram Tri Sandhya yang menurut ketentuan mesti dilakukan sebanyak tiga kali sehari (pagi = surya puja, siang = rahina puja, dan sore/malam = sandhya puja).

        Selain itu, patut diketahui mantra dalam makna doa, apabila diucapkan dengan perasaan hati yang mantap (yakin), disertai kebersihan dan kesucian hati, bebas dari pamrih, dan dilakukan terus secara berulang-ulang (nama smaranam), diyakini akan memiliki “kekuatan” yang dapat mengatasi segala peroalan apapun yang ingin dicarikan pemecahannya. Sebab dibalik mantra dalam kata-kata itu, tersimpan energi yang luar biasa eskipun terkesan sebagai kata-kata biasa, tetapi akan menjadi luar biasa jika si pengucap mantra melakukannya dengan sepenuh hati untuk berbhakti. Melalui mantra itu pula bhakti umat terjalin dalm suatu bentuk komunikasi spiritual yang begitu dalam makna dan pahalanya. Karena itu, mengucap doa-mantra hendaknya selalu dilakukan, kapanpun dan dimanapun, sebagai penuntun disaat kesukaan atau tertimpa kedukaan.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana

Penjor Lebay

        Pada saat pelaksanaan Galungan lalu saya lihat begitu banyak umat yang membuat penjor secara berlebihan dengan memodifikasi isian penjor dengan berbagai ornamen yang sebenarnya tidak penting. Bagaimana pendapat pengasuh?

        Subagaimana sering disampaikan bahwa umat hindu masa kini yang hidup di tengah peradaban kontemporer yang serba mementingkan penampilan fisikal-material, maka terhadap aktivitas keagamaan seperti halnya saat melaksanakan hari suci Galungan tak lepas dari ekspresi gaya pembuatan penjor inovasi. Tidak salah memang, hanya saja ketika unsur-unsur standar sesuai tuntunan etis-filosofis yang sebenarnya berbiaya murah lalu dimodifikasi menjadi lebih mewah dan megah tentunya dengan biaya yang lumayan “wah” (sampai hitungan jutaan), pastinya timbul pertanyaan, untuk apa dan siapa ?

        Sejatinya, apapun yang namanya ritual tetap saja masih berada di tataran fisikal yang bersifat material (kebendaan). Dalam suatu profesi keagamaan, sesungguhnya yang jauh lebih dipentingkan adalah pendalaman makna (tattwa), yang kemudian diharapkan terefleksi ke dalam bentuk perilaku beretika (susila) bukan sekedar tampilan bentuk-bentuk material (ritual). Apa yang disebut praktik ritual sepatutnya hanya sebagai alat/media untuk selanjutnya oleh umat dapat dijadikan sebagai anak tangga untuk lebih meningkatkan tahap keidupan rohaninya ke arah pendakian spiritual.

        Ini artinya, meski tidak bisa dikatakan salah apalagi dianggap bermasalah, pembuatan penjor secara berlebihan, baik dari sisi ornamen maupun pembiayaan, sebenarnya hanya merupakan kegiatan buang-buang uang saja. Atau kalau dianggap penting, paling tidak hanya untuk media ekspresi diri untuk sekedar unjuk gengsi atau berharap dapat sanjungan tinggi. Namun lepas dari motif demikian, tetap saja jenis penjor kreasi modifikasi itu tidak lebih sebagai “Penjor Lebay” alian penjor jor-joran. Kalau ada dan memang dibenarkan membuat penjor sederhana, namun lebih bermakna, untuk apa harus membuat penjor lebay lagi.

        Soal selera, kemampuan dana, mengikuti trend memang sah-sah saja. Tetapi kalau dengan cara begitu substansi dan esensi melaksanakan hari suci keagamaan menjadi kehilangan arti dan simbol-simbol maknanya tak nampak dalam laksana, sama saja dengan melakukan sesuatu yang sia-sia. Bukankah agama Hindu dalam hal ini lebih mementingkan ‘pendalaman’ dari pada penampilan. Sebeb, bagi seorang umat Hindu, pengalaman ajaran agama termasuk dalam hal menjalankan kewajiban yadnya seperti Galungan, bukan hanya terletak pada sekedar apa yang dapat dipersembahkan secara ritual-material, tetapi lebih kepada bagaimana umat itu sendiri mampu mempersembahkan sesuatu yang bernilai spiritual.

        Dengan nilai-nilai spiritual itulah umat diharapkan semakin termotivasi untuk menjadikan diri sebagai umat Hindu yang semakin hari semakin meningkat “Me-Mo-Ri” nya, dalam bentuk perbaikan mental, dan pengembangan akhlak bermoral, serta pencapaian kesadaran spiritual, yang manifestasinya akan terlihat dalam bentuk perilaku sosial seperti hidup selalu beretika atau berkesusilaan dan selalu dijiwai semangat saling asah, asih dan asuh. Hanya dengan demikian, tatanan hidup dan kehidupan umat (manusia) akan tetap trerjaga dalam suasana yang rukun, damai, sejahtera dan bahagia jauh dari arogansi individualistik yang anarkis yang biasanya selalu membawa perseteruan dan permusuhan antar sesama umat.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana

Potong Gigi Massal

        Saya berencana mengikutsertakan anak-anak saya sebagai peserta potong gigi massal, tetapi ditentang keluarga, dengan alasan menyalahi adat. Apa benar potong gigi massal itu menyalahi adat, adat yang mana?

        Belakangan ini, umat Hindu mulai berpikir praktis dan ekonomis meski seringkali dianggap mengabaikan aspek sosiologis, yang menginginkan segala kegiatan adat-keagamaan dilangsungkan secara bersama-sama dalam lingkup keluarga. Dalam contoh potong gigi massal atau bahkan ngaben massal, meski tidak menyalahi ketentuan agama, namun tetap dianggap menyalahi kebiasaan adat, khususnya adat masuka-duka yang menghendaki dipatuhinya adat kebersamaan dan kekeluargaan yang melaksanakan suatu kegiatan sosial keagamaan.

        Sebenarnya banyak pertimbangan positif yang menjadi alasan untuk memutuskan menyelenggarakan dan atau mengikuti kegiatan suka-duka yang bersifat massal. Pertama, sudah pasti tidak melanggar ketentuan ajaran agama sebagai landasan subtansi (tattwa). Kedua, dapat melibatkan banyak pihak/orang, yang sebenarnya juga berarti mengandung arti kebersamaan dan kekeluargaan, meski ada yang berbeda soroh/wangsa. Ketiga, terutama untuk menyesuaikan kemampuan diri dengan keadaan perekonomian saat ini yang relatif sulit, menjadikan kegiatan sosial keagamaan yang bersifat massal  itu lebih efisien dan efektif. Dan keempat, memberi gambaran bahwa umat Hindu itu adalah satu kesatuan keluarga besar tanpa harus membeda-bedakan asal keturunan (soroh/wangsa), kedudukan/jabatan, status ekonomi, dsb.

        Atas dasar pertimbangan situasional yang tidak menyalahi ketentuan agama itu, muncullah tradisi baru untuk menyelenggarakan dan atau mengikuti acara dan upacara keagamaan (yadnya) yang besifat massal (ngerit). Dalam pelaksanaan upacara (yadnya) massal ini, semua umat Hindu yang ikut serta, atas dasar kesadaran dan kondisi kemampuan masing-masing dapat mengikutinya, meski dilaksanakan oleh suatu perkumpulan warga dari soroh tertentu. Sebab, dalam konteks ini, yang penting itu bukan siapa yang menyelenggarakan, tetapi bagaimana konsep ajaran agama Hindu itu dapat dilaksanakan dengan baik dan benar dengan prinsip genep-jangkep dan patut-puput.

        Apalagi acara yadnya massal itu melibatkan kalangan pandita (sulinggih) dari semua kalangan umat/soroh (sarwa sadhaka) untuk “muput karya” tersebut, tentu merupakan sebuah pembuktian akan adaya pengakuan bahwa kepentingan dan “rasa agama” umat semuanya sudah diakomodasi dengan bijaksana.

        Memang, yang namanya ikatan kekeluargaan melalui pasemetonan adakalanya sangat membantu, meski sering juga dapat menghambat suatu keinginan untuk melaksanakan suatu kegiatan sosial-keagamaan semacam potong gigi massal. Alasannya, dengan mengikuti yadnya massal itu, apalagi dengan tidak menyertakan keterlibatan kerabat keluarga, dianggapnya tidak ingat lagi menyama braya. Namun harus diingat juga, bahwa dalam soal tanggungjawab pribadi sebagai kepala keluarga (guru rupaka) yang wajib “melunasi hutang” kepada anak, maka keputusan terakhir ada di tangan Bapak-Ibunya, bukan keluarga samping, yang terkadang justru menjadi beban (pengeluaran) dalam penyelenggaraan suatu upacara yadnya. Lagi pula melalui yadnya massal, termasuk potong gigi massal ini selain bersifat ngerit, juga irit (hemat) serta ngurit (menumbuhkan) semangat beragama dengan cara substansial (inti) dan esensial (bermakna).

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana