Bhatara Turun Kabeh Bagian 2

        Setiap Purnamaning Kadasa, di Pura Agung Besakih selalu diselenggarakan Upacara Bhatara Turun Kabeh, apa maknanya bagi kepentingan umat?

        Usai alam semesta dibersihsucikan melalui upacara Tawur Agug pada Tileming Kasanga, keesokan harinya dimulai sasih “kedasa”, yang artinya tidak saja mengacu pada bilangan “kesepuluh”, tetapi juga bermakna “kedas” (bersih-suci). Hari pertama sasih kedasa inilah menjadi hari pertama tahun baru saka yang disebut Ngembak Geni, masih satu rangkaian dengan peringatan hari suci Nyepi. Dan ketika bulan kedasa ini jatuh hari Purnama, saat bulan bersinar sempurna, maka digelarlah upacara yang lazim disebut Bhatara Turun Kabeh. Dimana dalam pemahaman theologi Hindu, mengawali berlangsungnya sasih kedasa, Hyang Widhi dalam berbagai manifestasinya, semuanya turun ke mercapada (dunia) untuk menerima persembahan (yadnya) sekaligus memberikan waranugrahanya. Pada saat itu, pasuecan Hyang Widhi akan bertemu dengan bhakti umat Hindu yang secara konsistem menegakkan sraddhanya.

        Itulah sebabnya, Pura Besakih sebagai huluning kahyanan jagat Bali menjadi pusat terselenggaranya ritual yadnya upacara Bhatara Turun Kabeh. Bagi umat Hindu, upacara ini sangat berarti sekali, sebab selalu menjadi motivasi sekaligus inspirasi bagi umat dalam menjalankan swadharmaning kemanusiaan, baik dalam konteks dharma agama maupun dharma Negara. Karena itu, berlangsungnya upacara Bhatara Turun Kabeh ini tidak boleh berhenti di tataran ritual yang terkadang lebih nampak sebagai ajang seremonial yang bergaya festifal, atau seperti pesta karnaval bernuansan kolosal. Yang jauh lebih penting bagi umat adalah, bagaimana pada saat momen ritual dapat tumbuh bangkit apa yang disebut dengan”me-mo-ri”, yaitu mental yang semakin baik, moral yang bertambah susila dan kesadaran spiritual yang kian mencapai pencerahan.

        Hal ini penting ditekankan, sebab sudah bukan rahasia lagi, umumnya umat Hindu Bali) merasa selesai dan tuntas melaksanakan kewajiban beragama hanya dengan meyadnya dengan erbagai macam nama upacara dan jenis upakara bebantennya. Seolah-olah asal sudah ngaturang bebanten, kewajiban beragama dianggap selesai. Padahal, seusai  melaksanakan upacara ydanya apapun jenis dan bentuknya, sesungguhnya masih ada kewajiban dan tanggung jawab lainnya yang justru lebih tinggi nilainya yang patut dilakukan. Mulai dari menumbuh-kembangkan sifat-sifat sosial, seperti gemar membantu sesama (umat Hindu) yang sedang kekurangan atau mengalami penderitaan, antara lain dengan menyisihkan sebagian harta kekayaan untuk dipuniakan bagi kepentingan pendidikan anak-anak kurang mampu, atau menyantuni anak-anak terlantar.

        Atau melakukan kegiatan-kegiatan yang bernuansa cinta lingkungan alam, misalnya dengan tidak merusak alam, tidak menebang pohon sembarangan, ikut aktif melakukan gerakan penanaman/penghutanan kembali lahan-lahan yang sudah mulai tandus, dsb yang intinya manusia harus semakin sadar bahwa segala persoalan hidup dan kehidupan di dunia ini, tidak hanya dicarikan jalan keluar melalui media upacara yadnya semata, tetapi ada jalan lain yang lebih langsung dirasakan manfaatnya, yaitu mengorbankan kepentingan diri sendiri untuk kepentingan orang banyak dan lingkungan alam tentunya, agar kehidupan ini dapat tetap berlangsung dengan lestari dan abadi.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana