Bhatara Turun Kabeh Bagian 1

        Apa sebenarnya makna penyelenggaraan upacara Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih pada setiap Purnama Kedasa itu?

        Secara harfiah makna penyelenggaraan upacara Bhatara Turun Kabeh itu adalah karya yadnya yang secara ritual akan “menghadirkan” atau “mengundang” (nedunang) Ida Bhatara semuanya (sahasra nama) untuk berkenan “turun” ke mercapada (bumi) guna “menyaksikan” dan “menerima” persembahan (yadnya) yang dilaksanakan umat-Nya tepat saat Purnama Kedasa, sasih yang dalam penanggalan Bali dipandang sebagai bulan yang paling sempurna (bersih dan suci). Sebab, sasih-sasih sebelumnya, terutama mulai dari Kenem, Kepitu, Kaulu, dan memuncak pada sasih Kesanga dipercaya sebagai bulan-bulan yang dikuasai “Bhuta-Kala” (pengaruh asuri = sifat keraksasaan).

        Sehingga, selepas sasih Kesanga yang ditandai dengan pelaksanaan upacara Tawur (sehari sebelum Nyepi), sebagai bentuk ritual (somya) untuk menetralisir (mengharmoniskan bhuwana), maka dimulailah ssih Kedasa, merupakan masa awal memasuki tahun baru Saka di bulan “Kedas” (bersih-suci). Di sasih Kedasa inilah, segala bentuk upacara yadnya yang berhubungan dengan “Kedewaan” bisa dimulai, seperti halnya Bhatara Turun Kabeh.

        Jadi, secara filosofis, pelaksanaan upacara yadnya Bhatara Turun Kabeh itu tidak lain dari tonggak perjalanan siklus sang waktu, dimana pada saat titik temu waktu mencapai titik kulminasi, antara waktu bhuta dengan waktu dewa, uamt Hindu secara ritual magi, “nedunang” atau mengundang Ida Bhatara makasami untuk berkenan “ngupasaksi” bhakti umat sekaligus memberikan waranugraha kerahajengan, kerahayuan jagat termasuk bagu “damuh”, umat manusia semuanya.

        Melalui upacara Bhatara Turun Kabeh itu, kehidupan umat manusia (Hindu) segera dimulai yang sekaligus juga sebagai pertanda awal memasuki tahun baru Saka. Tahun baru yang oleh umat Hindu dijadikan sebagai momen religius untuk “mulat sarira” atau introspeksi diri, yang didahului dengan melaksanakan secara ketat Catur Brata Penyepian denga empat pantangan yang berintikan pada pengendalian diri, antara lain tidak berapi-api, tidak bepergian, tidak beraktivitas rutin dan tidak menghibur diri.

        Begitu, ajaran Hindu itu memformulasi kegiatan-kegiatan upacara keagamaannya yang satu sama lain meski dipisakan waktu pelaksanaannya, tetapi secara keseluruhan, semua hari suci keagamaan itu merupakan satu kesatuan yang utuh dan bulat berintikan pada satu substansi, yaitu engendalian diri untuk mencapai kesadaran sang diri. Hari suci keagamaan dalam bentuk upacara yadnya sesungguhnya baru sebatas tataran ritual yang bersifat simbol-simbol material (bebanten).

        Menjadi tugas umat Hindu untuk menransformasi upacara yadnya dari tataran ritual yang peuh simbol agar dapat meningkat ke tataran spiritual. Artinya, melaksanakan upacara yadnya, tidak boleh berhenti atau menganggap selesai hanya dengan ngaturang upakara bebanten saja, tetapi seharusnya bisa bergerak terus ke arah perubahan atau perbaikan individual (umat), baik secara sosial, mental, moral dan terutama lagi spiritualnya. Hanya dengan begitu, setiap karya yadnya, termasuk upacara Bhatara Turun Kabeh di Pura Besakih akan menjadi lebih bermakna dan tentunya berguna bagi seluruh umat dan juga jagat raya.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana