Beda Tajen Dengan Tabuh Rah

        Sampai saat ini saya dibuat bingung, mana yang namanya “tajen” dan mana yang namanya “tabuh rah”, sebab keduanya sama-sama mengadu ayam. Tolong dijelaskan perbedaannya dan apa pula fungsinya?

        Benar, Tajen dan Tabuh Rah sering membuat kita bingung, karena kedua istilah ini seringkali dicampur-aukkan untuk kepentingan tertentu. Yang benar, Tajen itu-adalah adu ayam yang menggunakan senjata taji, sejenis pisau kecil yang teramat tajam dan diikatkan di kaki ayam. Dan pertarungan ayam aduan ini selalu disertai uang taruhan sehingga termasuk perjudian yang dilarang hukum dan juga agama. Sedangkan, yang namnya Tabuh Rah, adalah “taburan darah” yang didapat dari ayam yang diadu dan merupakan bagian dari prosesi suatu upacara bhuta yadnya. Pelaksanaan upacara Tabuh Rah ini dilakukan di areal Pura atau di tempat penyelenggaraan upacara yadnya dan yang pasti lagi tanpa menggunakan uang taruhan, jadi bebas dan bukan merupakan judi.

        Sebagaimana disebutkan dalam konsep tattwa, dalam suatu pelaksanaan upacara yadnya tertentu, persembahan kepada para Bhuta yang lima (Pancamahabhuta) wajib dilakukan sebagai upaya ritual untuk mencapai harmonisasi bhuwana (agung-alit). Untuk itu dipersembahkan unsur-unsur bhuta sebagai elemen terciptanya dunia, yang satu diantaranya adalah zat cair. Kalau di bhuwana agung, zat cair itu berupa “air”, sedangkan di bhuwana alit, zat cair itu tidak lain dari “darah”. Dan untuk mendapatkan “darah” itu, dalam suatu upacara bhuta yadnya, dapat dilakukan dengan :1. Memoton leher ayam kecil (pitik) atau babi kecil (celeng butuan yang disebut penyambleh. 2. Menikam atau menggorok binatang korban sehingga darahnya bertaburan atau bececeran, biasanya dilakukan pada upacara mapepada. Dan 3. Mengadu ayam gocekan di tempat upacara dengan tanpa taruhan. Dapat juga dilakukan dengan menyajikan darah mentah pada banten caru.

        Cukup jelas bukan perbedaan Tajen dengan Tabuh Rah. Persoalannya sekarang, seringkali dengan dalih dan atau mengatasnamakan Tabuh Rah, Tajen ikut dilaksanakan. Caranya, Tabuh Rah lebih dulu dijalankan sebagai bagian ritual yadnya, tetapi selepas itu diteruskan dengan kegiatan metajen, terurama digerakkan oleh para bebotoh. Ini yang salah kaprah, sehingga upacara yadnya yang bersifat suci, maening-ening menjadi ternoda oleh aktivitas judi yang menyertainya. Bahwa pelaksanaan Tabuh Rah itu merupakan bagian ritual yadnya yang disucikan, tersurat di dalam lontar-lontar, diantaranya lontar Yajna Prakerti yang bila diterjemahkan kurang lebih berarti : “…….pada waktu hari raya, diadakan pertarungan suci misalnya pada bulan kesanga, patutlah mengadakan pertarungan ayam tiga sehet lengkap dengan upakaranya……”.

        Degan berdasar pada petunjuk ontar diatas, tak ada keraguan atau kebingungan lagi untuk mendudukkan pada posisinya yang benar. Tajen sudah pasti judi, sedangkan Tabuh Rah adalah kegiatan religi yang berfungsi untuk mencapai harmonisasi jagat ini. Sekarang terpulang pada umat itu sendiri untuk dengan jujur dan teratur menata kembali, mana nilai-nilai yang membuat kita jadi hancur dan mana pula ajaran luhur yang patut dijunjung agar kita tidak semakin ngawur. Lagi pula dalam sejarahya tidak ada  kamus seorang pejudi menjadi kaya dan makmur, kecuali kehancuran. Karena itu sebaiknya umat Hindu tidak lagi menjadikan ajang ritual sebagai arena kegiatan legal seperti halnya judi tajen.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana