Arti Saraswati

        Apa arti kata dan makna filosofis dari hari suci Saraswati? Apakah benar pada saat Piodalan Saraswati tidak boleh membaca?

        Secara etimologis nama Saraswati berasal dari kata Saras dan Wati. Saras berarti sesuatu yang mengalir dan “kecap” atau ucapan. Sedangkan Wati berarti yang memiliki/mempunyai sifat mengalir dan sebagai sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Nama Saraswati selain sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan, juga dikenal sebagai sakti dari Dewa Brahma, sebagai Hyang-Hyangning Pangaweruh yang menjadikan aksara sebagai lingga Sanghyang Saraswati. Selain itu, Saraswati di India juga merupakan nama salah satu sungai suci, selain sungai Gangga, Yamuna, dll.

        Makna filosofis dari pelaksanaan Piodalan Saraswati itu adalah sebagai pemujaan atas turunnya ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi kelangsungan kehidupan umat manusai di dunia. Tanpa adanya ilmu pengetahuan, manusia akan mengalami kegelapan atau ketidaktahuan. Itulah sebabnya, nama kitab suci Hindu disebut Weda yang berarti pengetahuan suci yang kemudian dipelajari sebagai Widya yang tidak lain dari ilmu pengetahuan itu sendiri, baik yang bersifat Prawrti Marga (untuk kehidupan duniawi) dan Nirwrti Marga (untuk kehidupan rohani).

        Soal tidak bisa membaca pada saat berlangsungnya Piodalan Saraswati, sepatutnya dapat disimak dari beberapa sudut pandang. Pertama, dari sudut pandang ritual, bahwa sebagaimana sudah menjadi tradisi Hindu (Bali) di saat pelaksanaan Piodalan Saraswati, semua buku/pustaka apapun bentuknya mulai dari lontar, buku pelajaran, buku ilmu pengetahuan lainyang sesungguhnya merupakan Aksara (Lingga Saraswati) sedang dilakukan pemujaan dengan dihaturkan upakara bebanten Saraswati, sehigga sudah pasti tidak bisa diambil apalagi dibaca.

        Kedua, secara filosofis, sebenarnya bukan tidak boleh membaca sebagaimana sudah menjadi pemahamann umat. Piteket yang patut dijadikan pegangan adalah “sing dadi ngematiang aksara pinaka lingga sthana Sanghyang Saraswati”. Jika ditafsir, maka makna yang dikandung dari piteket itu adalah bahwa kita tidak boleh “mematikan huruf” yang beararti wajib terus menghidupkan aksara agar ilmu pengetahuan tetap mengalir sepanjang zaman, sebagaimana arti kata Saraswati itu sendiri. Setidaknya akan dibuktikan pada saat pelaksanaan upacara persembahyangan Saraswati yang hampir selalu diisi dengan acara penyampaian Dharma Wacana yang sering kali dilakukan dengan membaca naskahnya. Atau ketika melantunkan kekidung, acapkali juga dilakukan dengan membaca teksnya.

        Jadi, adanya dua sudut pandang ini memberi gambaran bahwa Hindu sesungguhny tidak mengenal semacam larangan seperti halnya dalam hukum perundang-undangan. Sebab jika larangan membaca pada saat Saraswati dikomentari dari sudut pandang akan pentingya budaya gemar membaca untuk mengejar kemauan ilmu pengetahuan dan teknologi, tentu agama Hindu akan dipandang tidak berpihak pada usaha pembelajaran bagi umatnya agar terbebas dari buta aksara atau kebodohan. Sebab dengan bekal ilmu pengetahuan itulah umat akan dapat menyeberangi lautan dosa menuju ke pulau harapan yaitu dengan mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup lahir bathin, begitu kitab suci Bhagawadgit, IV.36 menegaskan.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana