Arti Caru

Apa sebenarnya arti dan makna Caru tersebut, apakah benar dihaturkan untuk para Bhutakala? Dan apakah benar dengan mecaru kondisi alam yang telah rusak bisa harmonis kembali?

Kata Caru, berarti manis, enak atau sangat menarik yang berkembang menjadi harmonis, selaras, serasi, atau seimbang. Karena itu, caru atau mecaru yang tidak lain dari salah satu nama jenis upakara atau bebanten adalah tergolong ke dalam Bhuta Yadnya yang bermakna sebagai persembahan (korban suci) kepada unsur-unsur alam (Panca Maha Bhuta) agar tercipta atau terjaga kondisi keharmonisan, keselarasan, keserasian atau keseimbangan alam semesta yaitu antara bhuwana agung (makrokosmos) dengan bhuwana alit (mikrokosmos).

Dengan keharmonisan alam semesta itulah, manusia sebagai salah satu bagian dari unsur alam (isi bhuwana) yang berstatus makhuk hidup mulia dan “sempurna” memungkinkan dapat melangsungkan perikehidupannya dengan sejahtera dan bahagia. Sebaliknya apabila terjadi ketidakharmonisan alam, apalagi jika terjadi disebabkan oleh ulah manusia misalnya dengan cara merusak alam,sehingga terjadi bbencana, maka , sudah menjadi kewajiban manusia untuk memulihkan kembali kondisi harmonis tersebut.

Jadi jika misalnya terjadi banjir, tanah longsor atau pemanasan global, atau musibah alam lainnya, maka itu sesungguhnya bukan bencana alam namanya, melainkan bencana tak alami yang tidak lepas dari perbuatan manusia. Sehingga manusia tidak berhak menyalahkan alam yang sebenarnya telah memberikan kehidupan, apalagi jika sampai menuduh Tuhan itu sedang marah dengan cara membuat bencana.

Tuhan adalah Maha Kasih dan Maha Penyayang, karenanya telah diciptakan segalanya di alam ini untuk mana segenap makhluk hidup bisa saling menghidupi satu sama lain. Kalu kemudian alam beserta isinya menjadi rusak dan mendatangkan bencana, maka adalah kewajiban manusia, terutama umat beragama untuk kembali memulihkan dan menjaga kelestarian alam. Antara lain dengan cara ritual mecaru dengan berbagai tingkatannya, mulai dari masegeh sampai yadnya agung Panca Bali Krama, Eka Dasa Rudra, Tri Bhuwana hingga Eka Bhuwana yang sudah pernah dilaksanakan di Bali tetapi apakah dengan cara ritual saja alam yang telah rusak bisa pulih dan harmonis kembali?

Tentu tidak, diperlukan semangat lebih besar lagi untuk secara sadar melakukan tindakan-tindakan nyata ¬†yang bertujuan menciptakan atau menjaga kelestarian alam. Misalnya, tidak membabat hutan seenaknya, tidak mengeruk gunung atau danau demi keuntungan materi, tidak mendirikan bngunan fasilitas pariwisata di tempat-tempat yang disucikan, tidak mencemari loloan di lautan, dll. Atau melakukan gerakan penanaman pohon, mulai di telajakan atau pekarangan rumah, tegalan sampai ke kawasan hutan yang sudah mulai gundul dirambah dan dijarah manusia. Hanya dengan begitu, upacara bhuta yadnya seperti halnya mecaru akan beguna, dan para bhutakala yang sekarang banyak berwujud manusia itu tidak “ngrebeda” merusak isi alam seenaknya. Jadi, apa yang disebut mecaru itu sesungguhnya adalah media ritual untuk membangkitkan kesadaran spiritual agar seterusnya diimplementasikan kedalam kehidupan sosial dan environtmental (lingkungan), tentunya dengan cara berperilaku harmonis baik terhadap sesama manusia maupun kepada seisi alam/yang sangat oantas dijaga kelestariannya demi keberlangsungan kehidupan semua makhluk di muka bumi.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana

Leave a Comment