Apa Itu Mantra?

        Saya sering mendengar ada beberapa kata yang diartikan sama, meskipun sebenarnya berbeda, seperti kata mantra, puja dan seha. Apa arti kata-kata tersebut dan dalam hal apa dapat dibedakan?

        Kata “mantra” berasal dari kata “man” (manana) yang artinya “berpikir/pikiran” dan “tra” (trana) yang berarti bebas dari keterikatan. Arti kata mantra itu sendiri kemudian diberi makna bahwa dengan mengucapkan mantra seorang umat telah memikirkan tentang Hyang Widhi dengan pengharapan agar dirinya terbebas dari segala keterikatan duniawi yang menderitakan. Kemudian kata mantra itu berkembang menjadi kata “mamantra” (mengucapkan mantra) yang sering juga dipertukarkan pemakaiannya dengan kata “maweda/ngaweda” (mengucapkan weda) atau ada juga menyebutkannya dengan istilah “mapuja” bahkan “maseha”.

        Beragam istilah tersebut, terutama maweda, mapuja dan maseha, isi dan intinya adalah sama, yaitu pengucapan bait-bait mantra. Dan mantra itu sendiri berasal dari kitab suci Weda. Sebab Weda iu sesungguhnya berisi kumpulan mantra-mantra yang sifatnya sangat rahasia. Soal perbedaannya, antara lain terletak pada; (1) Subjek (pengucap mantra), dan (2) bahasa yang digunakan. Kalau yang mengucapkan mantra itu adalah seorang Sulinggih/Pandita (Sang Madwijati) maka dapat disebut “mamantra” atau “mapuja” dan bahasa mantra yang digunakan adalah sebagaimana asalnya bahasa Weda yaitu bahasa Sansekerta (Sanskrit). Sedangkan mantra yang dilantunkan dengan menggunakan bahasa campuran (sedikit bahasa Sanskrit, Jawa Kuno dan atau bahasa Bali (singgih) saja, lazim disebut “maseha” yang lumrah diucapkan oleh seorang Pinandita/Pemangku (Sang Ekajati).

        Yang jelas, meskipun istilah kata-katanya berbeda, namun apapun yang dilantunkan oleh pemimpin upacara yadnya pada hakekatnya berintikan pada pengucapan mantra-mantra yang bersumber dari kitab suci Weda. Dan untuk menucapkannya, tidak sembarang orang dapat melakukannya, kecuali untuk mantra yang bersifat sebagai doa-doa untuk suatu kegiatan tertentu, seperti doa makan, mendoakan orang meniggal, dll, bisa diucapkan oleh setiap umay (Hindu), termasuk mantram Tri Sandhya yang menurut ketentuan mesti dilakukan sebanyak tiga kali sehari (pagi = surya puja, siang = rahina puja, dan sore/malam = sandhya puja).

        Selain itu, patut diketahui mantra dalam makna doa, apabila diucapkan dengan perasaan hati yang mantap (yakin), disertai kebersihan dan kesucian hati, bebas dari pamrih, dan dilakukan terus secara berulang-ulang (nama smaranam), diyakini akan memiliki “kekuatan” yang dapat mengatasi segala peroalan apapun yang ingin dicarikan pemecahannya. Sebab dibalik mantra dalam kata-kata itu, tersimpan energi yang luar biasa eskipun terkesan sebagai kata-kata biasa, tetapi akan menjadi luar biasa jika si pengucap mantra melakukannya dengan sepenuh hati untuk berbhakti. Melalui mantra itu pula bhakti umat terjalin dalm suatu bentuk komunikasi spiritual yang begitu dalam makna dan pahalanya. Karena itu, mengucap doa-mantra hendaknya selalu dilakukan, kapanpun dan dimanapun, sebagai penuntun disaat kesukaan atau tertimpa kedukaan.

Sumber : Buku Penjor Lebay
Penulis : I Gusti Ketut Widana